SEJARAH

Cinta dan Kebahagiaan Sejati dalam Kamasutra

Lukisan sepasang kekasih dari Dinasti Mughal, India sekira 1597. (foto: Wikimedia Commons)

Kamasutra memiliki makna lebih dari sekadar soal seksual. Pengaruhnya menyebar dalam seni dan sastra.

TRANSKEPRI.COM. Kamasutra karya penulis India, Vatsyayana, banyak dipahami sebagai teks yang berisi tentang seksual belaka. Lebih dari itu, karya ini memuat cara mencapai kesempurnaan kama, yakni salah satu dari empat tujuan hidup manusia (Catur Purusa) dalam Hinduisme.

Riley Winters dalam “The Kama Sutra: Setting the Record Straight” terbit di Ancient Origins menjelaskan kama dalam arti kata yang paling umum dapat merujuk pada kasih sayang, cinta, rangsangan estetika, atau keinginan. “Tidak selalu berhubungan dengan seksualitas,” jelasnya.

Kamasutra menjadi karya yang memiliki pengaruh luar biasa dalam kesusastraan umum dan kehidupan artistik India. Ia menjadi dasar bagi banyak tulisan India pada periode berikutnya mengenai cinta. Termasuk di antaranya puisi cinta sanskerta.

K.M Panikkar, sejarawan India, dalam kata pengantar buku Kamasutra yang diterjemahkan dari The Kamasutra of Vatsyayana, menjelaskan, pengaruh Vatsyayana tak hanya terbatas pada bagian tertentu India. Pengaruhnya merambah dari Kashmir sampai Tanjung Comorin dan dari Bengal sampai Gujarat.

 “Pengaruh itu juga menyebar di manapun peradaban India menyebar. Di Kamboja misalnya, Vatsyayana dikutip langsung namanya sebagai sebuah otoritas dalam ilmu cinta,” jelas Panikkar.

Namun, pengaruh ajaran Kamasutra paling terlihat di dalam seni pahat. Contohnya bisa ditemukan pada relief-relief di beberapa candi dan kuil terkenal di India.

Era Kemakmuran Budaya

Menurut pakar sejarah gender dan seksualitas, Ruth Vanita dalam “Vatsyayana’s Kamasutra”, yang terbit di Same-Sex Love in India, tampaknya Vatsyayana adalah seorang sarjana Brahman yang tinggal di Kota Pataliputra (kini Patna). Ia hidup pada sekira abad ke-4 M, yakni pada masa pemerintahan raja-raja Gupta.

“Ini adalah periode kemakmuran materi dan budaya yang luar biasa untuk wilayah itu,” tulis Vanita.

Sementara itu, Panikkar memperkirakan Kamasutra ditulis antara abad pertama dan ke-4 M. Perkiraannya berdasarkan adanya kiasan yang dipakai Vatsyayana tentang kejadian yang berkaitan dengan Raja Kuntala yang berkuasa pada abad pertama Masehi. Adapun Kalisada, penyair dan penulis sandiwara klasik India yang hidup pada akhir abad ke-4 hingga awal abad ke-5, menunjukkan pengetahuannya yang sangat mendalam mengenai Kamasutra.

“Meskipun sulit menentukan tanggal yang pasti untuk karya itu, sangat jelas bahwa Vatsyayana hidup pada suatu masa setelah pemerintahan Kuntala Satakarni dan sebelum Kalisada, mugkin sebelum abad ke-4 M,” jelas Panikkar.

Seks Simbol Penciptaan Dunia

Pandangan masyarakat Hindu tentang seks berbeda secara fundamental dari pandangan dunia modern. Seks tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang normal dan perlu. Namun hampir merupakan sesuatu yang sakral.

Seks merupakan persekutuan antara Purusha (materi) dan Prakriti (energi). Itu disimbolkan lewat persekutuan antara Siva dan Shakti-nya, Parvati yang kemudian menciptakan dunia. Simbol Siva merupakan alat kelamin laki-laki dan simbol Shakti-nya adalah alat kelamin perempuan. Untuk alasan inilah setiap aspek kedewaan dalam Hinduisme digambarkan dengan seorang pasangan perempuan (shakti).

“Seks dianggap sebagai simbol penciptaan dan simbolisme religius masyarakat Hindu memperlihatkan hal itu pada semua level,” jelasnya.

Ajaran Hindu memandang segala sesuatu dalam aspek dua oposisi biner. Itu bahwa alam mewujudkan prinsip laki-laki dan perempuan. Maithuna atau tindakan bersetubuh menggambarkan secara simbolis doktrin religius yang menjadi dasar dalam Hinduisme.

“Persatuan antara laki-laki dan perempuan dipandang sebagai simbol penciptaan bukan kemunduran moral. Tidak hanya ada dalam pemujaan Tantris Hindu, melainkan dalam perkembangan tertentu Buddhisme,” jelas Panikkar.

Kama, Satu dari Tujuan Hidup

Kendati begitu menganggap teks Kamasutra sebagai buku panduan ritual yang berkaitan dengan seks Tantra merupakan kesalahpahaman dalam pandangan budaya non-timur. Itu kata Riley Winters.

Tantra, dalam istilah yang paling sederhana adalah keadaan yang mengacu pada penguasaan diri. Dalam budaya Barat kerap dikaitkan dengan penguasaan diri yang tinggi dalam ritual seksual.

Sementara kata Winters, Kamasutra sama sekali tidak berhubungan dengan ritual atau praktik Tantra. Pun bukan doktrin sakral dari ritual seksual.

Kesalahpahaman umum adalah bahwa ketujuh bab Kamasutra mengajarkan tentang hubungan seksual. Padahal hanya satu bab yang berbicara tentang posisi seksual. Sementara masing-masing bab menjelaskan bentuk kesenangan yang berbeda. Dengan itu seseorang dapat mencapai kama.

“Secara sederhana, fokus teks bukanlah tindakan fisik dalam bercinta, tetapi lebih pada pencapaian cinta dan kesenangan dalam hubungan dan kehidupan,” tulis Winters.

Dalam Hinduisme, kama merupakan satu dari empat hal utama yang menjadi tujuan kehidupan (Catur Purusa). Empat dasar dan tujuan hidup manusia di dalam Catur Purusa, yaitu dharma (sifat religius), artha (kekayaan materi), kama (cinta, hasrat, kenikmatan, kesenangan hidup), dan moksa (puncak kelepasan dan kebahagiaan sejati).

Kama, artha dan dharma merupakan tiga unsur tunggal. Ketiganya harus dipegang teguh jika ingin mencapai moksa.

“Teks itu mencontohkan bagaimana hasrat dapat membantu melepaskan seluruh kekuatan pribadi seseorang. Ini lebih dimaksudkan sebagai pedoman untuk hidup yang bajik,” jelas Winters.

Dibandingkan itu, kama di dalam konsep modern sudah banyak berubah. Kata Panikkar, dalam penelitian modern kama sering disamakan dengan hasrat, nafsu, atau cinta fisik. Karenanya Kamasutra umumnya dipandang sebagai buku yang bergelut tentang hal erotis atau sesuatu yang tak pantas untuk dikaji serius.

“Ini [Kamasutra] jauh dari hal semacam itu,” tegas Panikkar.

Pengaruh Kamasutra

Pengaruh Kamasutra paling mencolok terlihat di dalam seni pahat. Contohnya bisa ditemukan sebagai relief dinding Candi Konark, Khajuraho, Belur, Halebid, dan candi-candi terkenal lainnya dari abad pertengahan.

Bagi orang Barat, karya ini awalnya hanya sebatas pada keingintahuan mengapa di candi Hindu yang terkenal harus menampilkan relief adegan seks pada dindingnya. “Ini bukan merupakan ciri khas semata-mata dari candi-candi abad pertengahan,” kata Panikkar.

Menurut Panikkar, sebuah studi cermat terhadap arca-arca di Konark, Khajuraho, dan candi terkenal lainnya memperlihatkan betapa seniman telah mengikuti teks Kamasutra. “Pengaruh Vatsyayana dalam seni pahat ini bisa dilihat dalam perilaku dan pose tokoh-tokoh di dalam relief,” jelasnya.

Panikkar mencatat, di Nagarjunikonda terdapat banyak ukiran kayu yang menggambarkan adegan percintaan. Nagarjunikonda adalah pusat arsitektur dan seni pahat Buddha yang paling terkenal. Ukiran-ukiran yang ada di sana kemudian diidentifikasikan sebagai versi seni pahat dari teks karya Vatsyayana.

“Pada dinding-dinding kuil Jain juga ditemukan ukiran perempuan telanjang,” lanjut Panikkar.

Dengan melihat itu, menurut Panikkar tak mungkin jika para pendiri candi bermaksud merusak moral atau hanya sekadar ingin memanjakan selera suatu masyarakat yang moralnya merosot. “Jelas sekali mereka mengekspresikan aspek fundamental dari kepercayaan religius India,” tegasnya.

Bagaimanapun Kamasutra ditulis atas kehendak Yang Maha Kuasa untuk kepentingan dunia oleh Vatsyayana. Itu sembari dirinya menjalani kehidupan sebagai seorang siswa keagamaan yang seluruh hidupnya terikat di dalam proses merenungi Dewa. Setidaknya demikianlah kata sang penulis pada bagian akhir karyanya.

 


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar