Per Juli 2020, Tanjungpinang Alami Inflasi 0,34 Persen

Rapat Tim TPID Kota Tanjungpinang

TRANSKEPRI.COM.TANJUNGPINANG- Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Tanjungpinang mengatakan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tanjungpinang pada Juli 2020, Tanjungpinang mengalami inflasi sebesar 0,34 Persen.

Wakil Sekretaris TPID Kota Tanjungpinang, Nopirman Syahputra  Menuturkan data yang dipaparkan oleh Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri dan BPS Kota Tanjungpinang bahwa pada bulan Agustus 2020 angka inflasi di Kota Tanjungpinang akan tetap terkendali dibawah 1 persen.

Sementara untuk bulan Juli 2020 terdapat beberapa kelompok yang tergolong stabil dalam mempengaruhi inflasi di Kota Tanjungpinang, antara lain perumahan, air, listrik, bahan bakar rumah tangga, informasi komunikasi, jasa keuangan, pendidikan dan penyediaan makanan dan minuman/restoran.

Sementara itu komoditas dominan pemicu inflasi di Kota Tanjungpinang pada Juli 2020, kata Nopirman sesuai data BPS Tanjungpinang, terdiri dari angkutan udara sebesar 17,12% dengan andil inflasi 0,19%, emas perhiasan sebesar 7,83% dengan andil inflasi 0,08%, telur ayam ras sebesar 7,12% dengan andil inflasi 0,07%, cabai hijau sebesar 81,07% dengan andil inflasi 0,04% dan ikan tongkol sebesar 6,40% dengan andil inflasi 0,04%.

“Ada beberapa komoditi yang mengalami kenaikan harga, diantaranya ikan caru, emas perhiasan, cabai merah, ikan kembung, cabai rawit, ikan layang/ikan benggol, daun bawang, wortel, brokoli, sabun mandi cair, sabun wajah, sawi putih/pecay/pitsai, cabai hijau, sikat gigi, ikan asin belah, ikan selar/ikan tude, susu bubuk balita, hand body lotion, mie kering instan, ikan mata besar dan lainnya,” ujar Nopirman Syahputra.

Sementara itu, perwakilan dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepri, M. Arif Kurniawan, menghimbau agar Pemko Tanjungpinang tetap mensosialisasikan penggunaan QRIS sebagai salah satu cara untuk pembayaran secara digital kepada OPD, masyarakat dan pelaku usaha di Kota Tanjungpinang.

“Alhamdulillah, Kota Tanjungpinang memperoleh peringkat kedua nasional untuk implementasi belanja daerah melalui SP2D On Line, Setelah Kota Surakarta, semoga dapat lebih baik lagi dalam pelaksanaannya, yang saat ini in progress transpormasi untuk pengelolaan pendapatan daerah khusus nya sektor pajak daerah dan restribusi daerah” kata Arif.

Seterusnya Arif menyampaikan, diprediksi angka inflasi Tahun 2021 berpotensi mendekati batas atas sasaran inflasi. Hal ini sebagai dampak pemulihan dari pandemi Covid-19 di tahun 2020 akan mendorong prospek ekonomi yang lebih baik, sehingga mendorong pertumbuhan dan tingkat pendapatan masyarakat, perbaikan pendapatan atau daya beli akan meningkatkan permintaan atau konsumsi. 

Kondisi tersebut berpotensi disertai kenaikan ekspektasi inflasi masyarakat. Peningkatan resiko inflasi tersebut harus diantisipasi dengan ketersediaan pasokan yang memadai antara lain melalui kerja sama antar daerah, beber Arif.

Perwakilan Bulog mengatakan, ketersediaan stok beras yang tersedia saat ini di gudang Bulog Tanjungpinang tergolong aman dan cukup dengan jumlah 1.700 ton 300 diprediksi cukup untuk 5-6 bulan kedepan dan harga beras stabil dan terjangkau oleh masyarakat sesuai harga yang disediakan oleh Bulog.

Sedangkan komoditi lainnya, seperti minyak goreng dan gula pasir juga masih tergolong aman. Dengan data yang ada saat ini ketersediaan komoditi di gudang Bulog Tanjungpinang tergolong aman dan mencukupi.

Plt Wali Kota Tanjungpinang, Rahma selaku pimpinan rapat berharap inflasi di Kota Tanjungpinang selalu stabil meskipun dalam kondisi Covid-19. Selain itu, Rahma juga mengatakan terkait kondisi para petani di Kota Tanjungpinang masih belum memadai dari segi sarana dan prasarana.

“Kami harapkan ada dana CSR untuk membantu para petani kami agar lebih produktif dalam segala hal, terutama dari segi sarana prasarana, pupuk dan lain sebagainya. “Kami berharap dapat segera direalisasikan agar membantu para petani kami,” ucap Rahma.(mad)

 


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar