Tak Tegas Sebut Jurnalis Aljazeera Dibunuh Tentara Israel, Sejumlah Media Barat Dikritik

Jurnalis Aljazeera, Shireen Abu Akleh

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Terbunuhnya jurnalis Al Jazeera, Shireen Abu Akleh, di Tepi Barat yang diduduki oleh Israel telah menciptakan kegemparan di seluruh dunia. Para komentator dan pengguna media sosial ramai-ramai mengkritik outlet media Barat karena enggan menyebut jika pembunuhan wartawan senior tersebut dilakukan oleh pasukan Israel.

Abu Akleh, seorang jurnalis berkebangsaan Palestina-Amerika yang bekerja untuk saluran televisi Arab Al Jazeera, dilaporkan terkena peluru tajam Israel pada Rabu pagi (11/5), saat dia melakukan peliputan mengenai serangan militer Israel di kota Jenin yang berlokasi di Tepi Barat.

Namun, meskipun menunjukkan rasa hormat terhadap karir Abu Akleh, banyak organisasi media berhati-hati untuk menghindari keterlibatan Israel dalam pembunuhan itu, meskipun ada pernyataan dari Al Jazeera dan saksi yang bersamanya bahwa Abu Akleh telah dibunuh oleh pasukan Israel.

Beth Miller, direktur politik Suara Yahudi untuk Perdamaian, mengecam New York Times dengan judul berita utama yang mengatakan Abu Akleh "meninggal pada usia 51", tanpa menyebutkan penyebab kematiannya.

"Shireen Abu Akleh ditembak dan dibunuh oleh penembak jitu Israel saat melaporkan serangan militer Israel di sebuah kamp pengungsi," tulis Miller dalam postingan Twitter.

“'Meninggal pada usia 51'. Luar biasa, NYT,” tambahnya.

Shireen Abu Akleh was shot and killed by an Israeli sniper while reporting on an Israeli military raid of a refugee camp.

"Dies at 51". Unbelievable, NYT. pic.twitter.com/H8kxCqFubi

— beth miller (@bethavemiller) May 11, 2022

The New York Times juga merilis koreksi untuk "salah menyatakan" pernyataan Al Jazeera tentang pembunuhan Abu Akleh, setelah awalnya melaporkan salah bahwa Al Jazeera mengatakan Abu Akleh tewas dalam "bentrokan".

Kritikan pedas juga menyasar Associated Press karena pelaporannya.

"AP melaporkan bahwa jurnalis ikonik Palestina Shireen Abu Aqleh 'terbunuh oleh tembakan' adalah jurnalisme yang tidak etis," tulis seorang pengguna akun Twitter @AimRabie dalam postingannya.

“Dia 'tidak dibunuh' oleh alien, dia dibunuh oleh pasukan Israel. Harus ada dampak untuk menyebarkan 'fakta alternatif' tentang kebenaran dasar,” tambahnya.

[email protected] reporting that the iconic Palestinian journalist Shireen Abu Aqleh “was killed by gunfire” is unethical journalism. She “was [not] killed” by aliens, she was killed by Israeli forces. There should be repercussions for propagating ‘alternative facts’ about basic truths. https://t.co/7tZ6QtwrJw

— AR- (@AimRabie) May 11, 2022

Pengguna Twitter lain, Fatima Said, mengutuk pilihan kata-kata Associated Press. Ia juga mencatat bahwa kantor berita itu sendiri pernah dibom di Gaza oleh pasukan Israel setahun yang lalu.

“Bahkan dalam kematian, tidak ada martabat atau keadilan bagi warga Palestina. Sebuah outlet berita utama menggambarkan pembunuhan seorang jurnalis veteran di tangan Israel sebagai 'tembakan' acak," cuit Said.

“Ini adalah AP, yang kantor medianya diratakan dengan bom Israel tahun lalu,” tambahnya.

Even in death, there’s no dignity or justice for Palestinians. A major news outlet describing a veteran journalist’s assassination at the hands of Israel as random “gunfire”. This is the same AP whose media offices were flattened with Israeli bombs last year in Gaza. 1/2 pic.twitter.com/YsJlosXULS

— Fatima Said (@fatimazsaid) May 11, 2022

 


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar