Empat Juta Orang Meninggal Akibat COVID, Asia Pontang-panting Lawan Pandemi

Petugas dari kepolisian membawa boneka saat berlatih menangani jenazah COVID di Stadion Manahan Solo, Jawa Tengah, pada 6 Juli 2021. Foto/REUTERS

TRANSKEPRI.COM, JENEWA - Lebih dari empat juta orang telah meninggal karena infeksi Covid-19 di penjuru dunia menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (7/7).

Ketika banyak negara kaya bersiap melonggarkan pembatasan, negara-negara di Asia pontang-panting memerangi infeksi yang melonjak drastis.

Indonesia telah menjadi hotspot global, dengan sebagian besar rumah sakit harus menolak pasien. Pihak berwenang terpaksa mengimpor pasokan oksigen dan rekor 1.040 kematian dilaporkan pada Rabu (7/7).

“Dunia berada pada titik berbahaya dalam pandemi ini,” ungkap Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut angka empat juta itu terlalu rendah dari jumlah sebenarnya yang tak seluruhnya terdata.
Dia mengatakan, “Beberapa negara dengan cakupan vaksinasi yang tinggi bersantai seolah-olah pandemi sudah berakhir, sementara yang lain telah melihat lonjakan tajam dalam kasus karena varian yang sangat mudah menular dan ketidaksetaraan yang mengejutkan dalam akses ke vaksin.”
Indonesia adalah salah satu negara yang terpukul keras. Pemerintah Indonesia telah memperluas pembatasan di penjuru nusantara menyusul tindakan keras sebelumnya di ibu kota Jakarta dan beberapa daerah lainnya.

Pembatasan baru berlaku untuk lusinan kota dan meluas di Indonesia yang berpenduduk hampir 270 juta orang.
Indonesia kini dihantam varian Delta yang sangat menular yang pertama kali terdeteksi di India.

Wabah yang dipicu delta juga menyebabkan penerapan pembatasan di Australia, termasuk di kota terbesarnya Sydney di mana perintah lockdown pada lebih dari lima juta penduduk pada Rabu (7/7) diperpanjang setidaknya satu pekan lagi.

“Strain Delta ini adalah pengubah permainan, sangat menular,” papar Gladys Berejiklian, perdana menteri Negara Bagian New South Wales, di mana Sydney adalah ibu kotanya.

Australia sebagian besar telah mengendalikan wabahnya sejak pandemi dimulai, tetapi pemerintah berada dalam tekanan yang meningkat atas peluncuran vaksin yang lambat.

“Masih menakutkan bahwa virus itu ada di luar sana,” papar Menno De Moel, 44, warga di pusat vaksinasi di Sydney tempat dia mendapatkan suntikan pertamanya.

“Mudah-mudahan ini akan menjadi lockdown terakhir, tetapi di sisi lain apa pun yang diperlukan, perlu dilakukan,” ujar dia.

Olimpiade Tokyo yang sudah tertunda satu tahun juga tetap dihantui ketakutan akan virus corona.

Pihak berwenang dan penyelenggara berusaha menemukan cara menjadi tuan rumah dengan aman pada salah satu acara olahraga terbesar di dunia itu. Saat ini acara hanya lebih dari dua pekan sebelum dimulai.

Pejabat Jepang mengumumkan Rabu bahwa pawai obor Olimpiade telah dibatalkan di jalan-jalan Tokyo untuk mencegah keramaian.

Dengan infeksi yang meningkat, pemerintah diperkirakan memperpanjang pembatasan pekan ini yang kemungkinan akan memengaruhi jumlah penggemar yang dapat menghadiri acara Olimpiade.

Tetapi di London, semifinal dan final turnamen sepak bola Euro 2020 akan diadakan pekan ini dengan 60.000 penggemar diizinkan di Stadion Wembley, meskipun Inggris menghadapi lonjakan infeksi baru.

Vaksinasi massal, bagaimanapun, telah menghentikan lonjakan dalam penerimaan pasien atau kematian di rumah sakit.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah mengumumkan berakhirnya sebagian besar pembatasan virus, seperti masker wajah dan jarak sosial dalam ruangan, di Inggris.

Negara-negara bagian Inggris lainnya yakni Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara bergerak lebih lambat.

Ketika beberapa negara mulai melonggarkan pembatasan Covid, WHO membunyikan alarm atas kurangnya dana untuk memerangi pandemi.

Dikatakan WHO, pendanaan vaksin, perawatan, diagnostik, dan peralatan virus corona masih kurang USD16,8 miliar atau hampir setengah dari total kebutuhannya.

Bahkan di negara-negara kaya dengan program vaksinasi yang berhasil, pihak berwenang mewaspadai kebangkitan pandemi dan telah menerapkan beberapa pembatasan, seperti persyaratan masker wajah pada penerbangan di Amerika Serikat.

Namun penerbangan American Airlines dari North Carolina ke Bahama ditunda sehari setelah sekitar 30 remaja menolak memakai masker, menurut media AS.

“Itu buruk. Pertama, mereka berteriak. Mereka mengutuk. Mereka menjadi sangat menjengkelkan,” papar saksi mata Malik Banks kepada stasiun lokal WSOC-TV.(net)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar