TRANSKEPRI.COM.BATAM — Dinamika komunikasi publik antara pimpinan birokrasi dan insan pers di Kota Batam mendapat respons menyejukkan dari organisasi wartawan dan pemilik perusahaan media di Kepulauan Riau. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri bersama Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kepri mengajak seluruh insan pers untuk menyikapi setiap pernyataan Wakil Wali Kota Batam yang juga Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, secara jernih, bijak, dan profesional.
Ketua PWI Kepri, Saibansah Dardani yang didampingi Wakil Sekretaris Muhammad Ikhsan menilai dinamika yang terjadi sebagai ruang pendewasaan bersama dalam panggung pelayanan publik. Menurutnya, insan pers yang matang adalah pers yang mampu memilah substansi pesan secara obyektif tanpa kehilangan daya kritisnya.
Sementara itu, Ketua SMSI Kepri, Aldi Samjaya didampingi Kepala Bidang Antar-Lembaga SMSI Kepri, Nov Iwandra melihat karakter kepemimpinan Li Claudia dari sudut pandang yang lebih hangat dan positif. Menurut Aldi, gaya bicara yang spontan, tegas, dan blak-blakan justru mencerminkan karakter asli seorang ibu atau "emak-emak" yang ingin segala urusan tuntas dengan cepat.
"Gaya komunikasi Bu Li Claudia ini unik dan bernuansa kepemimpinan ala emak-emak: lugas, tanpa basa-basi, dan ingin pekerjaan beres dengan sempurna. Kadang, untuk mengakselerasi pembangunan kota sekompleks Batam, kita memang membutuhkan sosok pemimpin yang berani dan ceplas-ceplos seperti beliau. Ini harus kita tanggapi dari sisi positif sebagai bagian dari warna kepemimpinan daerah," tutur Aldi.
Respons positif dari organisasi pers tersebut sejalan dengan komitmen yang terus dibangun oleh BP Batam dan Pemerintah Kota Batam. Anggota/Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menegaskan bahwa semangat yang didorong oleh Li Claudia Chandra adalah memperkuat silaturahmi serta membuka ruang dialog yang lebih cair dengan para pimpinan redaksi dan wartawan.
Ariastuty yang akrab disapa Tuty menjelaskan, pemerintah sangat menghargai fungsi pers sebagai pilar demokrasi. Komunikasi yang dibangun bukan bertujuan untuk membungkam atau membatasi ruang kritik, melainkan untuk menciptakan kesalingpahaman di era digital yang sangat dinamis.
“Ibu Li Claudia ingin membangun komunikasi yang lebih dekat dengan media. Silaturahmi ini bukan untuk membatasi ruang kritik, tetapi justru membuka ruang dialog agar pemerintah dan media bisa saling mendengar dan memahami,” ungkap Tuty.
Ia menambahkan, kritik dari pers merupakan masukan berharga bagi evaluasi kebijakan. Namun, ia berharap setiap karya jurnalistik tetap mematuhi kaidah dasar, seperti akurasi, verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan data.
“Kritik yang kuat justru lahir dari proses jurnalistik yang kuat ada verifikasi, konfirmasi, data, dan keberimbangan. Kami tidak membutuhkan media yang hanya memuji pemerintah. Kami membutuhkan media yang kritis dan profesional. Kalau kritiknya berdasarkan data, tentu itu menjadi bahan penting bagi kami untuk berbenah,” tegas Tuty.
Langkah silaturahmi berkelanjutan ini diharapkan dapat mengubah paradigma relasi antara pemerintah dan pers di Batam. Media tidak hanya hadir saat timbul persoalan, dan pemerintah tidak hanya mencari pers ketika membutuhkan publikasi.
Dengan terjalinnya komunikasi dua arah yang sehat antara Pemko Batam, BP Batam, PWI Kepri, dan SMSI Kepri, ekosistem informasi publik di Kepulauan Riau diyakini akan semakin matang. Pada akhirnya, transparansi yang berpadu dengan jurnalisme berkualitas akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat luas. (*)
Tulis Komentar