TRANSKEPRI.COM.PEKANBARU- Rangkaian Focus Group Discussion (FGD) yanng digelar via online oleh mahasiswa Anambas di Pekanbaru, Kamis (04/06/26) yang melibatkan generasi muda Kabupaten Kepulauan Anambas menghasilkan sejumlah temuan dan rekomendasi strategis terkait penguatan partisipasi publik, konsolidasi generasi muda, serta pembangunan ruang demokrasi lokal yang lebih partisipatif dan berkelanjutan.
FGD yang dilaksanakan bersama mahasiswa Kabupaten Kepulauan Anambas di Pekanbaru ini menjadi ruang refleksi dan diskusi bersama untuk memetakan berbagai tantangan demokrasi lokal yang dirasakan langsung oleh generasi muda.
Diskusi berfokus pada partisipasi publik, ruang aspirasi, peran media dan ruang digital, serta keterlibatan generasi muda dalam isu-isu pembangunan daerah.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa tantangan demokrasi lokal tidak hanya berkaitan dengan proses pemerintahan dan kebijakan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengakses ruang partisipasi, menyampaikan aspirasi, serta terlibat dalam diskusi publik secara bermakna.
Peserta FGD menilai bahwa sebagian besar generasi muda Kabupaten Kepulauan Anambas masih memiliki kepedulian terhadap persoalan daerah. Namun, kepedulian tersebut seringkali berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung dalam gerakan kolektif yang mampu memperkuat partisipasi generasi muda dalam ruang demokrasi lokal.
Kondisi geografis Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai daerah kepulauan juga menjadi tantangan tersendiri dalam membangun komunikasi dan konsolidasi antar generasi muda. Selain itu, masih terbatasnya ruang partisipasi yang berkelanjutan menyebabkan berbagai gagasan, kritik, dan aspirasi anak muda belum sepenuhnya terakomodasi dalam ruang publik.
Dalam diskusi yang berlangsung, peserta juga menyoroti pentingnya penguatan ekosistem informasi publik yang mampu mendorong diskusi kritis, edukasi demokrasi, serta keterlibatan warga dalam membahas isu-isu strategis daerah. Di tengah perkembangan ruang digital yang semakin luas, kebutuhan terhadap informasi yang berkualitas, ruang belajar publik, serta wadah diskusi yang sehat menjadi semakin penting untuk memperkuat demokrasi lokal.
"Generasi muda Anambas sebenarnya masih memiliki kepedulian terhadap daerahnya.
Tantangannya bukan terletak pada ada atau tidaknya kepedulian tersebut, melainkan bagaimana kepedulian itu dapat dipertemukan, diperkuat, dan dihubungkan dalam ruang kolektif yang berkelanjutan," ujar fasilitator FGD.
Berdasarkan hasil pemetaan dan diskusi yang telah dilakukan, peserta FGD mengidentifikasi lima isu strategis yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu:
Lemahnya konsolidasi generasi muda Anambas dalam membangun ruang demokrasi lokal secara kolektif dan berkelanjutan;
Minimnya ruang aspirasi dan forum partisipasi berkelanjutan yang melibatkan generasi muda dalam proses pembangunan dan pengambilan keputusan daerah.
Kuatnya pengaruh relasi sosial dan kultur masyarakat yang dalam situasi tertentu mempengaruhi keberanian generasi muda dalam menyampaikan kritik terhadap persoalan daerah;
Terbatasnya ekosistem informasi publik yang mendorong diskusi kritis, edukasi demokrasi, dan keterlibatan warga dalam isu-isu strategis daerah;
Generasi muda Anambas masih memiliki kepedulian terhadap isu daerah, namun kurangnya dorongan kolektif, inisiator gerakan, serta tindak lanjut aspirasi menimbulkan sikap pesimis dan melemahnya partisipasi publik.
Sebagai tindak lanjut, peserta FGD mendorong penguatan ruang dialog publik yang lebih terbuka dan berkelanjutan, pengembangan pendidikan demokrasi dan literasi publik, serta peningkatan kolaborasi antara generasi muda, media, komunitas, akademisi, masyarakat sipil, dan pemerintah daerah.
Peserta juga mendorong lahirnya berbagai ruang pembelajaran dan penguatan kapasitas generasi muda, termasuk pengembangan program jurnalistik dan media warga yang dapat menjadi sarana edukasi publik, dokumentasi isu daerah, serta penguatan partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi lokal. (*)
Tulis Komentar