Minang Fest 2023 Bakal Disemarakkan dengan 'Maarak Jamba'

Ketua Umum DPP Gema Minang didampingi ketua panitia Minang Fest 2023, foto bersama Bundo Kanduang Batam di sekretariat DPP Gema Minang Batam, di kawasan Pelita, Rabu (22/02/23). (gemaminang)

TRANSKEPRI.COM.BATAM- Minang Fest 2023 Merupakan “Baralek Gadang” Orang minang yang ada di kota Batam. Acara yang akan digelar pada tanggal 3-5 Maret 2023, di daratan Engku Putri, Batam Centre ini, telah mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Batam maupun Pemprov Sumbar.

Minang Fest 2023 akan menampilkan berbagai acara di antaranya, maarak jamba, makan basamo, donor darah, bazar kuliner dan produk UMKM Minang, senam sehat, atraksi seni dan budaya Minang, Pengukuhan Pengurus DPP Gema Minang Kota Batam yang dikomandoi Drs. Leo Putra, AP, Msi, Launching sekretariat dan sejumlah program Gema Minang Batam.

Acara Maarak Jamba, salah satu yang akan di suguhkan di iven tersebut, mendapat support dari Bundo-bundo Minang yang ada di Kota Batam, baik dari Bundo Kanduang Kota Batam, Bundo ikatan Keluarga Kabupaten/Kota Serta Bundo dari Pasukuan Minang yang ada di Kota Batam.

” Alhamdulillah, Bundo-Bundo Minang yang ada di Batam melalui Bundo Kanduang, Bundo IK-IK Kabupaten/Kota, Bundo-bundo Suku-Suku Minang dan Srikandi Gema Minang sangat mensupport Maarak Jamba,” ujar Itasentil veriyani, S.Pd, MM  Koordinator Acara Maarak Jamba atau yang biasa di panggil keseharian dengan sebutan Onshu pada Rabu (22/2) Sore di Sekretariat DPP Gema Minang Kota Batam, Kawasan Pelita, Lubuk Baja

Hal ini dikatakan oleh Onshu setelah melakukan beberapa kali rapat dengan Para bundo terkait Maarak Jamba, ” Minggu lalu, Alhamdulillah Panitia juga sudah bertemu dan rapat dengan ketua Bundo Kandung Kota Batam beserta jajaran pengurus baik yang di DPP maupun di DPC, dan Hari ini dengan Bundo-Bundo lainya, InsaALLAH acara yang akan kita adakan ini berjalan lancar, Basamo Majo Manjadi,” ungkap Onshu lagi.

Sekilas terkait Maarak Jamba, dalam bahasa setempat,  Jamba adalah Makanan yang terbungkus rapi yang diletakan di atas tampan yang dikenal sebagai talam. Dalam talam itu, terdapat banyak piring berisi makanan, yang dibungkus kain perca berornamen adat Minangkabau, lalu jamba-jamba tersebut di letakan di kepala dan diarak ke salah satu tempat, untuk disantap bersama.

Tradisi makan bersama itu disebut bajamba, tradisi makan yang dilakukan masyarakat Minang dengan cara duduk bersama disuatu tempat yang ditentukan.

Secara harfiah, makan bajamba bermakna sangat dalam karena tradisi makan bersama akan memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial di masyarakat.

Tradisi ini diperkirakan telah ada sejak Islam masuk ke Minangkabau sekitar abad ke-7  dan masih tetap lestari sebagai bagian dari upaya mempertahankan budaya dan sekaligus menjadi daya tarik wisatawan dalam dan mancanegara. (rilis)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar