Hapus Limbah Batu Bara dari B3, Jokowi Tuai Kritikan

Limbah tambang batu bara

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Pakar Lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Tarsoen Waryono mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mengeluarkan limbah batu bara dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Ia menilai pemerintah kurang etis dalam menyikapi risiko dari limbah batu bara fly ash and bottom ash (FABA).

"Kesan mengesampingkan risiko dari limbah batu bara, menjadi limbah yang kurang berbahaya, menjadikan pemerintah kurang etis dalam menyikapi risiko dari FABA," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, melalui keterangan tertulis, Selasa (16/3).

Padahal menurut Dosen MIPA UI itu, limbah batu bara dapat menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan terutama pada masyarakat yang bekerja di bidang tambang.

Tarsoen menjelaskan dampak negatif juga dapat berpotensi pada masyarakat yang berada di sekitar pemanfaatan energi batu bara, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan tungku Industri lainnya.

Menurutnya limbah FABA dapat berdampak gatal pada kulit manusia, serta berbahaya terhadap organ pernapasan jika terhirup. Karena salah satu jenis limbah FABA berbentuk partikel debu yang sangat halus.Lebih lanjut Tarsoen menjelaskan bagaimana limbah FABA yang merupakan limbah B3 berbahaya bisa membahayakan manusia.

Tarsoen juga menyebut limbah FABA yang menurut PP Nomor 22 Tahun 2021 dianggap limbah tidak berbahaya itu, merupakan limbah yang mematikan.

"Limbah batu-bara (FABA) dianggap tidak berbahaya, padahal merupakan limbah yang mematikan," kata Tarsoen.

Berbeda dengan Tarsoen, peneliti Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Anggoro Tri Mursito, mengatakan limbah dari hasil proses pembakaran yang berbentuk FABA dapat dimanfaatkan menjadi beberapa bahan baku pertambangan, salah satunya bahan baku pembuatan semen.

"Limbah dari pembakaran batu bara khususnya Fly Ash itu memiliki kandungan silika alumina yang tinggi. Fly ash itu kasih air dicampur dengan air tunggu berapa lama bisa mengeras dengan sendirinya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.Limbah FABA yakni Fly Ash, kata dia, memiliki kandungan silika alumina yang tinggi. Sehingga dapat menjadi bahan baku campuran untuk membuat perekat beton atau semen.

Selain dapat dijadikan bahan baku perekat bangunan, limbah B3 itu juga dapat menjadi campuran untuk bahan baku pembuatan pupuk urea. Maka dari itu ia menilai limbah FABA masih dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat lain.

Lebih lanjut ia menjelaskan tidak seluruh limbah B3 dari proses pembakaran batu bara itu berbahaya. Ada limbah yang memiliki sifat hazardous (berbahaya) atau toxic (beracun).

Menurutnya limbah FABA disebut berbahaya apabila dari sisi jumlah begitu banyak, sehingga diperlukan penangnan maupun pemanfaatan yang baik agar sisa limbah tidak menibulkan bahaya bagi lingkungan di kemudian hari. (tm)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar