Data Center Wajib Bangun SWRO, BP Batam Pastikan Suplai Air Masyarakat Tak Terganggu

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad

TRANSKEPRI.COM, BATAM – Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong setiap pengembangan kawasan industri data center di Kota Batam untuk membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) secara mandiri.

Kebijakan tersebut diterapkan untuk memastikan pertumbuhan investasi, khususnya industri data center, tidak mengganggu ketersediaan air baku yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, mengatakan kebutuhan air dalam jumlah besar untuk operasional data center harus dipenuhi melalui sumber air alternatif, salah satunya dengan teknologi desalinasi air laut atau SWRO.

Menurutnya, kebutuhan industri tidak boleh sepenuhnya menambah beban terhadap sumber air baku dari waduk yang juga menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan air masyarakat Kota Batam.

“Kita ingin investasi tumbuh, tetapi kebutuhan pendukungnya juga harus dipikirkan. Karena itu, untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kita dorong adalah bagaimana mereka memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO,” ujar Amsakar di Batam Centre, Rabu (23/9/2026).

Saat ini, terdapat sekitar 10 rencana pengembangan data center di Batam. Salah satunya telah beroperasi dan menyambut kebijakan pemerintah terkait pemenuhan kebutuhan air secara mandiri melalui pembangunan SWRO.

Pengembangan skema serupa juga diharapkan diikuti oleh data center lainnya, terutama yang berada di kawasan Kabil dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, kapasitas produksi air melalui SWRO diproyeksikan mencapai sekitar 750 liter per detik pada tahap awal. Kapasitas tersebut selanjutnya ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik melalui pembangunan fasilitas SWRO di dua kawasan tersebut.

Amsakar menegaskan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan investasi dan kebutuhan dasar masyarakat.

“Ini betul-betul komplementer, saling melengkapi antara kebijakan kita dengan kepentingan pelaku usaha, tanpa mengganggu kapasitas produksi waduk untuk masyarakat ke depan,” katanya.

Berpotensi Dukung Kebutuhan Masyarakat

Selain untuk memenuhi kebutuhan operasional industri, keberadaan instalasi SWRO juga dinilai berpotensi memberikan manfaat lebih luas bagi ketahanan air bersih di Batam.

Apabila kapasitas produksi air hasil pengolahan SWRO nantinya melebihi kebutuhan operasional data center, kelebihan kapasitas tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Meski demikian, pemanfaatannya tetap harus mempertimbangkan sejumlah aspek, seperti kapasitas produksi, kualitas air hasil pengolahan serta kesiapan jaringan distribusi.

Amsakar mengatakan pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu strategi dalam mencari sumber air baru seiring meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan investasi sekaligus kota yang terus berkembang.

“Jadi bukan hanya industrinya yang kita pikirkan. Kita juga melihat bagaimana investasi ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Kalau kapasitasnya memungkinkan dan infrastrukturnya siap, tentu ada peluang untuk dimanfaatkan bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurut Amsakar, kehadiran data center menjadi salah satu sektor strategis dalam memperkuat struktur ekonomi Batam di masa mendatang.

Pertumbuhan industri tersebut juga diharapkan memberikan efek berganda terhadap sektor lainnya, mulai dari konstruksi, kebutuhan tenaga kerja profesional hingga berbagai sektor pendukung yang dapat ikut menggerakkan perekonomian lokal.

Dengan pembangunan SWRO secara mandiri, investasi data center diharapkan dapat terus berkembang tanpa mengurangi kapasitas sumber air yang diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat Kota Batam.


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar