Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Anambas dari Partai Demokrat, Hino Faisal, yang turun langsung meninjau kondisi di lapangan, menggambarkan situasi saat itu cukup mengkhawatirkan.
“Jumlah pasien sangat banyak, ruang perawatan tidak memadai. Ini jelas bukan kejadian biasa,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (16/4/2026).
Lonjakan pasien yang drastis membuat fasilitas kesehatan bekerja ekstra. Bahkan, sejumlah pasien sempat ditangani dengan dukungan darurat, termasuk penambahan tempat tidur dari BPBD untuk mengantisipasi kekurangan kapasitas.
Meski kondisi sebagian besar korban kini berangsur membaik dan telah diperbolehkan pulang, DPRD menilai kejadian ini tidak bisa dianggap ringan. Banyaknya korban menjadi indikator perlunya evaluasi menyeluruh.
“Ini sudah masuk kategori luar biasa. Harus ada langkah serius dan evaluasi total,” tegas Hino.
Fokus perhatian kini tertuju pada aspek teknis pelaksanaan program MBG, terutama terkait standar kelayakan dapur, kebersihan proses pengolahan, serta kepatuhan terhadap prosedur operasional (SOP).
Menurutnya, insiden ini membuka kemungkinan adanya celah dalam pengawasan yang selama ini luput dari perhatian.
“Kalau sebelumnya berjalan normal, kenapa kali ini bisa terjadi? Ini yang harus diurai secara jelas,” katanya.
DPRD memastikan akan segera memanggil seluruh pihak terkait guna dimintai keterangan, sekaligus melakukan penelusuran menyeluruh terhadap rantai pelaksanaan program, mulai dari penyedia bahan hingga distribusi makanan.
“Semua harus diperiksa secara menyeluruh. Jangan sampai program yang tujuannya baik justru menimbulkan risiko bagi masyarakat,” lanjutnya.
Ia juga menegaskan bahwa pengawasan program tidak bisa hanya dibebankan pada satu instansi. Sebagai program nasional, MBG membutuhkan keterlibatan semua pihak, baik pemerintah daerah, dinas teknis, hingga pengawasan di tingkat pelaksana.
Di tengah kondisi tersebut, DPRD turut mengapresiasi kerja keras tenaga medis yang dinilai sigap menangani lonjakan pasien dalam waktu singkat.
Tulis Komentar