Sekolah yang gerbangnya langsung bersentuhan dengan jalan kecil itu berdiri jauh dari pusat kota. Dindingnya sederhana, halaman terbatas, dan ruang belajar harus berbagi dengan kondisi lingkungan yang padat. Namun di sanalah literasi dirawat setiap hari, bukan sebagai jargon, melainkan kebiasaan.
“Menulis dan membaca kami jadikan rutinitas harian, bukan sekadar tugas,” ujar Alfida saat menerima kunjungan PWI Batam Seksi Pendidikan, Selasa (20/1/2026).
Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, siswa secara bergilir membacakan karya mereka di hadapan teman-temannya. Mulai dari cerita pendek, puisi, jurnal harian, hingga konten video sederhana. Kegiatan ini melatih keberanian, kepercayaan diri, sekaligus kemampuan berbahasa.
Tak hanya siswa, para guru juga ikut terlibat. Pidato berbahasa Inggris dilakukan secara bergiliran, menegaskan bahwa proses belajar berlaku untuk semua, tanpa sekat hierarki.
Sebagai guru bahasa Inggris, Alfida memadukan literasi modern dengan kearifan lokal. Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji terpajang di dinding kelas dan menjadi bagian dari aktivitas belajar. Pada akhir Januari 2026, SMPN 38 Batam bahkan akan menggelar lomba membaca Gurindam Dua Belas dan Langgam Melayu.
“Pelatihan jurnalistik, literasi, dan lomba gurindam ini bagian dari Festival Anak Tanjung Uncang Tiga Lapan,” jelasnya.
Tanpa perpustakaan, sekolah ini menyiasatinya dengan menghadirkan pojok-pojok baca di ruang terbuka. Buku-buku tersedia di sudut halaman sekolah, menjadi bukti bahwa membaca tidak selalu membutuhkan gedung besar, melainkan kemauan.
Pada hari yang sama, sebanyak 50 siswa mengikuti pelatihan jurnalistik dan literasi di Laboratorium Komputer sekolah. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam yang diwakili Kabid Pembinaan SMP, Joni Satria Putra, didampingi pengawas sekolah.
“Kami berharap PWI Batam terus mendampingi sekolah-sekolah dalam menumbuhkan literasi. Ini adalah fondasi penting bagi cara berpikir dan bersikap siswa,” ujar Joni.
Ketua PWI Batam, M.A. Khafi Anshary, menegaskan bahwa kegiatan literasi di sekolah merupakan bagian dari ikhtiar panjang menyambut Hari Pers Nasional (HPN), sekaligus memperkuat budaya membaca dan menulis sejak dini.
“Literasi dan jurnalistik mengajarkan kejujuran pada fakta, keberanian pada kebenaran, serta tanggung jawab pada setiap kata,” tegasnya.
SMPN 38 Batam juga memiliki pers sekolah yang aktif, dengan sekitar 160 siswa terlibat dalam kegiatan jurnalistik dan pengelolaan mading. Bagi mereka, mading menjadi ruang awal untuk belajar menyampaikan gagasan.
Di sekolah yang sederhana itu, literasi menemukan jalannya sendiri. Tanpa perpustakaan megah, tanpa fasilitas berlebih, kata-kata tetap tumbuh, dibaca setiap pagi, dan ditulis dengan penuh keyakinan bahwa dari ruang sempit pun masa depan dapat dirancang. (JKF)
Tulis Komentar