Ini yang Terjadi pada Tubuh Manusia Jika Meninggal di Luar Angkasa

Persaingan untuk membuat koloni di planet lain kian dekat pada kenyataan. Foto/NASA

TRANSKEPRI.COM, JAKARTA - Persaingan untuk membuat koloni di planet lain kian dekat pada kenyataan dengan hadirnya sejumlah perusahaan swasta penerbangan 
luar angkasa. Tak hanya memikirkan bagaimana rasanya hidup di luar angkasa, perlu dipikirkan lagi apa yang akan terjadi jika seseorang meninggal di sana.

Karena, kematian di Bumi dengan di luar angkasa akan sangat berbeda. Di Bumi, ketika tubuh manusia kehilangan nyawa akan melewati serangkaian tahap pembusukan yang diawali dengan livor mortis, yakni berhentinya aliran darah akibat gaya gravitasi.

Kemudian tubuh menjadi dingin hingga algorith mortis dan otot menjadi kaku karena akumulasi kalsium yang tidak terkendali di serat otot. Lalu keadaan yang disebut rigor mortis, enzim, protein yang mempercepat reaksi kimia, menghancurkan dinding sel, dan melepaskan isinya.
Dosen Antropologi Biologi Terapan di Teesside University, Tim Thompson mengatakan, kondisi meninggal di bumi dan di luar angkasa berbeda keadaannya.

"Ketiadaan gravitasi di luar angkasa pasti akan berdampak pada tahap livor mortis yang berarti darah tidak akan terkumpul," katanya seperti dikutip dari Remonews, Jumat (22/10/2021).

Thompson mengatakan, jika tubuh yang meninggal berada di dalam pakaian antariksa, rigor mortis masih akan terjadi karena masih terdapat oksigen yang memungkinkan bakteri usus melahap jaringan lunak tetapi proses ini akan sangat lambat.

Masalah lainnya adalah soal pemakaman, karena kondisi tanah di bumi dan planet lain jelas berbeda. Di Bumi, penguraian sisa-sisa manusia adalah bagian dari ekosistem yang seimbang di mana nutrisi didaur ulang oleh organisme hidup, seperti serangga, mikroba, dan bahkan tanaman.

Sedangkan lingkungan di planet berbeda, tidak ada organisme hidup seperti serangga atau mikroba yang mengurai mayat manusia. "Tetapi kondisi gurun Mars yang gersang dapat membuat jaringan lunak mengering dan mungkin sedimen yang terbawa angin akan mengikis dan merusak kerangka seperti yang kita lihat di Bumi," katanya.
Suhu juga merupakan faktor penentu dalam pembusukan tubuh di  luar angkasa. Di Bulan misalnya, suhu dapat berkisar dari 120 ° C hingga -170 ° C yang dapat membuat tubuh yang mati mengalami kerusakan akibat panas atau beku.

Namun Thompson melihat, proses perusakan tubuh manusia yang mati di bulan tidak akan sama dengan di bumi. Tubuh manusia yang mati tidak benar-benar rusak karena prosesnya pasti berbeda.

"Mungkin kita perlu menemukan bentuk baru dari praktik pemakaman yang tidak melibatkan kebutuhan energi yang tinggi untuk kremasi atau penggalian kuburan di lingkungan yang keras dan tidak ramah," kata Thompson.

(net)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar