SEJARAH

Maeda, Anak Samurai Jadi Perwira Angkatan Laut

Samurai Satsuma selama Perang Boshin (1868–1869). (Wikimedia Commons).

Mengikuti jejak kakaknya, Tadashi Maeda memilih bergabung dengan Angkatan Laut. Pendudukan Jepang membawanya ke Indonesia.

TRANSKEPRI.COM. Seorang kadet yang baru lulus dari Perguruan Tinggi Kelautan (Marine College) pada 1918, berdiri di dek kapal Tokiwa, armada latihan Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang berlayar menuju Australia melalui Selat Sunda. Dia memandang pulau-pulau berwarna hijau dikelilingi langit dan laut yang biru, meninggalkan kesan yang kuat dalam pikirannya.

Pada 1928, untuk kali pertama Tadashi Maeda, nama kadet itu, mampir di pelabuhan Tanjungpriok, Batavia (Jakarta). Setelah itu, dia dua kali datang ke Balikpapan dan Tarakan untuk mengangkut minyak tanah.

Maeda lahir di Kota Kajiki, Distrik Aira, Prefektur Kagoshima, pada 3 Maret 1898. Dia anak mantan samurai Satsuma, wilayah yang 40 persen warganya keluarga samurai. Sumber lain menyebut ayahnya kepala sekolah di Kajiki.

Maeda lulus dari Kenritsu Kajiki Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) di Kajiki pada Maret 1915. Pada September 1915, dia mengikuti jejak kakaknya masuk Kaigun Hei Gakko (Perguruan Tinggi Kelautan) di Etajima selama tiga tahun dan menjadi ahli navigasi. Setelah lulus pada November 1918, dia menjadi kadet armada Angkatan Laut untuk pelayaran Australia Barat, Ceylon (Srilanka), dan Singapura.

Setelah 12 tahun bertugas di armada Angkatan Laut Jepang, Maeda dengan pangkat mayor –sumber lain menyebut letnan satu– pindah ke Staf Umum Angkatan Laut pada 1930. Dia bekerja selama satu setengah tahun di Seksi Urusan Eropa Departemen Angkatan Laut di Tokyo.

“Sejak itu, dia terutama bertugas di bidang staf dan ini adalah titik balik penting dalam kariernya,” tulis sejarawan Ken’ichi Goto dalam manuskrip “The Naval Liaison Office in Jakarta and Indonesian Nationalism: Profiles of Maeda Tadashi” yang diterima Historia.id.

Sejarawan Benedict Anderson dalam Revoloesi Pemuda menguraikan dari tahun 1932 sampai 1934, Maeda bekerja pada Depot Angkatan Laut di Ominato, di tempat itu istrinya meninggal (dia tetap menduda). Pada awal tahun 1937, dia dikirim ke Inggris sebagai ajudan Laksamana Muda Sonosuke Kobayashi untuk mewakili Jepang pada upacara penobatan Raja George VI.

Setelah kembali ke Jepang dia berdinas pada Armada Gabungan di perairan Tiongkok, sebagai perwira pembantu kepada panglima, Laksamana Zengo Yoshida. Dengan pangkat letnan kolonel, dia menjadi perwira pembantu Laksamana Kiyoshi Hasegawa, panglima Pangkalan Angkatan Laut Yokosuka pada Desember 1938.

Maeda kemudian dipindahkan sebagai atase militer Kedutaan Besar Jepang di Den Haag Belanda pada 8 Januari 1940 ketika Eropa dalam keadaan perang. Namun, dia hanya sebentar menduduki jabatan itu karena Jerman menduduki Belanda pada Maret 1940. Kedutaan Besar Jepang ditutup, dia kembali ke Jepang pada Juli 1940.

“Jerman menyerang Belanda, lalu setelah Belanda kalah, ada perintah dari Tokyo untuk saya pulang. Melalui Moskow dan Siberia, saya pulang ke Tokyo. Lalu saya masuk dalam tim Kobayashi,” kata Maeda dalam wawancara dengan Abdurrahman Surjomihardjo pada Agustus 1973, sebuah proyek sejarah lisan Arsip Nasional Republik Indonesia.

Misi Kobayashi

Pada Oktober 1940, Maeda pergi ke Jakarta sebagai anggota misi Kobayashi untuk meminta pemerintah Hindia Belanda menjamin penyediaan bahan kebutuhan perang, terutama minyak. “Isinya adalah soal minyak. Memang saya anggap industri Jepang mutlak memerlukannya. Maka kami bicara dengan Belanda supaya mereka bersedia menjual minyak. Durasinya diminta setahun,” kata Maeda.

Selain soal minyak, menurut Anderson, misi Kobayashi juga meminta Belanda memperluas terbukanya pelabuhan-pelabuhan dan pasar-pasar dalam negeri kepada kapal dan produksi dari Jepang; serta memperbolehkan penambahan yang besar jumlah imigran Jepang. Namun, Maeda memiliki tugas khusus, yaitu mengumpulkan rahasia-rahasia militer Belanda dan bersama orang-orang sipil seperti Shigetada Nishijima, Ishii Taro, dan Machi, membentuk kolone kelima di kalangan penduduk pribumi.

Menutut Goto, perundingan itu berlangsung selama sembilan bulan dari September 1940 sampai Juni 1941. Pada sisi Jepang, khususnya Angkatan Laut, tujuan utama adalah mengamankan minyak secara resmi. Sebab, minyak sangat menentukan tidak hanya politik dalam negeri dan ekonomi Jepang, tetapi juga hubungan luar negeri.

“Perundingan batal. Kami pulang. Dalam perjalanan pulang, kami mendengar Sekutu menyetop seluruh penjualan minyak kepada Jepang. Itulah sebab utama Jepang mengumumkan perang,” ujar Maeda.

Memang, menurut Goto, seperti dikatakan Jepang memulai “Perang Pasifik karena minyak dan dikalahkan juga karena minyak.”

Maeda kembali ke Jepang pada Juni 1941. Dia diangkat menjadi Kepala Seksi 7 Divisi 3 Staf Umum pada 1 Oktober 1941. “Seksi 7 bertanggungjawab atas informasi tentang Eropa termasuk Uni Soviet. Orang yang menjadi direktur Divisi 3 adalah kakaknya, Maeda Minoru. Dengan demikian, ini berarti kakak Maeda berada di posisi sentral dari bagian informasi di Staf Umum satu tahun sebelum perang,” tulis Goto.

Maeda menghabiskan sebagian besar di tahun 1930-an di bidang staf. Dia pindah untuk mengamati wilayah Asia Tenggara pada April 1942, setelah Jepang menduduki wilayah itu dengan cepat –sehingga dapat dibandingkan dengan pendudukan Nazi-Jerman di Prancis– setelah pecahnya Perang Pasifik. Dia kemudian bertugas di Indonesia selama pendudukan Jepang.

 


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar