Virus Corona Mampu Bertahan di Suhu Tinggi


 

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Sebuah studi baru mengungkapkan virus Corona mungkin cukup kuat untuk menahan suhu tinggi dan tidak akan mati karenanya.

Sebelumnya, para ahli berharap bahwa cuaca hangat pada musim panas mendatang dapat membantu menghilangkan SARS-CoV-2, strain virus dari COVID-19 yang menjadi penyebab pandemi saat ini. Berdasarkan pandemi sebelumnya dan siklus khas flu tahunan, harapan mereka masuk akan karena virus biasanya menginfeksi orang selama paruh kedua musim dingin dan mulai memudar saat musim panas tiba.

Karena itu mereka berharap meski tidak membunuh virus sepenuhnya, musim panas bisa memperlambat penyebaran setidaknya hingga mengembangkan vaksin yang pasti untuk penyakit tersebut

Sayangnya sebuah studi baru mengungkapkan bahwa virus itu mungkin cukup kuat untuk menahan suhu musim panas yang lebih hangat dan lebih tinggi. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas Aix-Marseille di Perancis

Dalam studi tersebut, sel ginjal monyet hijau Afrika terinfeksi virus. Para peneliti kemudian menciptakan dua set kondisi yang berbeda, "bersih" mewakili kondisi laboratorium, dan "kotor," yang akan lebih seperti kondisi sampel kehidupan nyata diambil.


Tim kemudian menjalankan 10 percobaan berbeda menggunakan prosedur berbeda untuk membunuh virus. Ini termasuk pemanasan dan metode kimia. Temuan menunjukkan dalam tes pemanasan, ketika virus terkena suhu 92 derajat Celcius selama 15 menit, selnya benar-benar tidak aktif.

Dua kondisi panas lainnya, 60 derajat Celcius selama 60 menit dan 56 derajat Celcius selama 30 menit, menghasilkan 'penurunan infektivitas yang jelas', tetapi dengan beberapa sampel dengan viral load yang lebih tinggi tetap aktif.
Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya tentang SARS-CoV dan MERS-CoV," tulis peneliti dikutip dari News Week.

Beberapa strain Sars-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, dapat bertahan hidup pada suhu 60 derajat Celcius selama satu jam. Untuk membunuh virus dalam pengaturan laboratorium, tim harus memanaskannya hingga 92 derajat Celcius selama 15 menit.

Meski demikian, temuan yang muncul di situs web pra-cetak bioRxiv, belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan belum ditinjau oleh para ahli, sehingga temuan ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati.(007)

 


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar