ADVERTORIAL BP BATAM

Modernisasi TPK Batu Ampar Perkuat Posisi Batam sebagai Hub Logistik Internasional

Modernisasi TPK Batu Ampar Perkuat Posisi Batam sebagai Hub Logistik Internasional

Transformasi besar tengah berlangsung di Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar. Melalui modernisasi infrastruktur, digitalisasi layanan, dan penguatan sistem operasional, pelabuhan utama di Batam ini kini berkembang menjadi gerbang logistik berstandar internasional yang mampu meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta konektivitas pelayaran global.

Pengembangan TPK Batu Ampar merupakan hasil sinergi Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama PT Batam Terminal Petikemas (BTP) sebagai mitra kerja sama BP Batam dan PT Batu Ampar Container Terminal (BACT). Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar BP Batam dalam memperkuat daya saing kawasan perdagangan bebas sekaligus menjadikan Batam sebagai pusat logistik dan investasi di kawasan Asia Tenggara.

Untuk mendukung transformasi tersebut, investasi sekitar USD 85 juta dikucurkan guna memperbarui peralatan bongkar muat, memperluas area penumpukan peti kemas (container yard), meningkatkan kapasitas terminal, hingga mengimplementasikan sistem digital yang membuat pelayanan kepelabuhanan semakin cepat, efisien, dan transparan.

Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan modernisasi TPK Batu Ampar merupakan implementasi dari visi Kepala BP Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra dalam membangun sistem logistik yang modern, efisien, dan berdaya saing tinggi.

"Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi sebagai komitmen untuk mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien, sekaligus meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, dan tujuan investasi utama," ujar Denny.

Transformasi tersebut mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Produktivitas bongkar muat peti kemas (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 box crane per hour (BCH) menjadi 24 BCH atau naik sekitar 33 persen.

Peningkatan yang lebih tinggi juga terjadi pada produktivitas penanganan kapal (Ship Handling Productivity), yang melonjak lebih dari tiga kali lipat dari 12 box ship per hour (BSH) menjadi 40 BSH.

Dampaknya sangat terasa pada efisiensi operasional pelabuhan. Waktu putar kapal (Vessel Turnaround Time) berhasil dipangkas hingga 65 persen, dari rata-rata 20 jam menjadi hanya sekitar tujuh jam. Sementara waktu tunggu kapal (Waiting Time) turun dari 1,4 jam menjadi hanya 0,6 jam atau berkurang sekitar 57 persen.

Kinerja yang semakin optimal tersebut turut mendorong pertumbuhan arus peti kemas. Selama periode Januari hingga Mei 2026, TPK Batu Ampar mencatatkan volume bongkar muat mencapai 221.183 TEUs. Dari jumlah tersebut, aktivitas ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas manufaktur dan perdagangan dari Batam menuju pasar internasional.

Modernisasi terminal juga diikuti dengan penguatan konektivitas pelayaran internasional melalui layanan direct call. Frekuensi kapal berkapasitas 1.200 hingga 2.000 TEUs kini meningkat menjadi 10 hingga 13 kali setiap bulan, dibanding sebelumnya hanya enam hingga tujuh kali.

Selain itu, TPK Batu Ampar secara rutin melayani kapal berkapasitas 1.000 hingga 1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan, serta kapal berkapasitas 1.000 TEUs sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan.

Meningkatnya layanan direct call memberikan keuntungan besar bagi dunia usaha. Salah satunya terlihat pada rute Batam–Shanghai, di mana biaya pengiriman peti kemas ukuran 20 kaki kini hanya berkisar USD 650 hingga USD 800. Angka tersebut jauh lebih kompetitif dibandingkan sebelumnya yang harus melalui proses transshipment di Singapura dengan biaya mencapai USD 950 hingga USD 1.100 per kontainer.

Efisiensi tersebut memungkinkan penghematan biaya logistik hingga USD 300 per kontainer atau sekitar 30 hingga 50 persen. Selain lebih hemat, waktu pengiriman juga menjadi lebih cepat, hanya sekitar delapan hari.

Manfaat lain juga dirasakan perusahaan pelayaran. Dengan waktu sandar kapal yang lebih singkat hingga 17 jam per kunjungan, operator kapal mampu menekan biaya operasional armada hingga sekitar USD 3.800 setiap kali kapal bersandar di TPK Batu Ampar.

Tidak hanya memperkuat infrastruktur fisik, BP Batam juga terus mendorong transformasi digital melalui penerapan sistem Direct Billing yang akan diberlakukan secara penuh setelah seluruh pengguna jasa siap menggunakannya.

Melalui sistem pembayaran secara langsung dan real-time ini, pengguna jasa dapat melakukan pembayaran layanan terminal tanpa melalui pihak ketiga. Sistem tersebut diharapkan mampu meningkatkan transparansi, mempercepat proses administrasi, memangkas birokrasi, serta menurunkan dwelling time sehingga arus barang menjadi semakin efisien.

Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menilai berbagai indikator positif tersebut menunjukkan bahwa arah pengembangan TPK Batu Ampar telah berada pada jalur yang tepat.

"Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas tampung terminal agar dapat merespons pertumbuhan arus barang global dan memperkokoh posisi Batam sebagai hub logistik regional," ujarnya.

Komitmen yang sama juga disampaikan Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi. Menurutnya, BTP bersama BACT akan terus menjaga keberlanjutan peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi digital dan pengembangan infrastruktur pelabuhan.

Agenda strategis berikutnya meliputi perluasan terminal, pengerukan kolam pelabuhan agar mampu melayani kapal-kapal berukuran lebih besar, serta integrasi sistem digital kepelabuhanan secara menyeluruh.

"BP Batam bersama BTP dan BACT akan melanjutkan berbagai program strategis untuk mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional," tutup Basori.

Melalui transformasi menyeluruh di TPK Batu Ampar, BP Batam optimistis Batam akan semakin kokoh sebagai pintu gerbang logistik internasional, memperkuat daya saing kawasan perdagangan bebas, sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional melalui sistem kepelabuhanan yang modern, efisien, dan berkelas dunia.


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar