17 Pelajar Denmark Belajar Budaya ke Anambas


TRANSKEPRI.FOM.ANAMBAS- Sebanyak 17 orang pelajar asal negara Denmark Belajar Budaya masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas.

Redath yang notabene merupakan budaya turun menurun milik masyarakat Anambas diperkenalkan,  dan para pelajar asal negara dengan julukan "negeri dongeng" diberikan coaching klinik, sehingga tak hanya mengenal namun juga mampu memainkannya.  

Bahkan, untuk benar-benar memberikan sentuhan magis kepada para pelajar tersebut  Ketua Sanggar Redath Sri Tanjung yang juga camat Siantan, Syamsir, SAP turun langsung memberikan pelatihan.

Ketua Sanggar Redath Sri Siantan, Syamsir, SAP mengatakan, agar seluruh wisatawan yang terdiri dari pelajar asal Denmark  dapat memainkan alat musik Redath, mereka belajar secara bergantian.

"Agar semua wisatawan dapat merasakan dalam memainkan alat musik Redath,  para pelajar itu secara bergilir belajar cara memainkannya, Bahkan para wisatawan tersebut menggunakan pakaian khas Melayu Anambas," ujar Syamsir.

Pria yang juga menjabat sebagai camat Kecamatan Siantan mengungkapkan, bahwa Redath sendiri merupakan budaya loka yang saat tetap dilestarikan di masyarakat.

Bahkan lanjut Ayah Sayyid Rafasya, Redatha ditampilkan saat menyambut tamu-tamu besar yang datang ke Anambas, atau juga mengantar pengantin.

"Alhamdulillah, hingga saat ini kesenian Redath dapat sering dilihat saat acara-acara, seperti menyambut tamu, serta mengantar pengantin," tuturnya.

Pihaknya tambah Syamsir mengucapkan terimakasih kepada wisatawan asal Denmark yang mau untuk mempelajari budaya lokal asal Kabupaten Kepulauan Anambas.

"Kami berharap setiap wisatawan yang hadir tetap dapat menikmati budaya lokal seperti kesenian Redath," katanya. (Yd)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar