Perang Antarsuku di Wamena, 13 Meninggal, 19 Terluka dan Ratusan Warga Mengungsi

Mapolres Jawajiya, Papua Pegunungan. (net)

TRANSKEPRI.COM.PAPUA- Perang antarsuku terjadi di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Peristiwa ini menelan korban jiwa hingga 13 orang dan19 orang lainnya dilaporkan luka-luka.

Selain itu, konflik antarsuku itu juga menyebabkan 789 warga harus mengungsi. Dari jumlah itu, ada 298 anak-anak dan 122 lansia.

CNNIndonesia.com telah merangkum sejumlah informasi terbaru terkait perang antarsuku di Wamena itu, sebagai berikut

Dipicu kecelakaan anggota DPRD

Polda Papua menyebut perang antarsuku yang terjadi di Wamena itu dipicu kasus kecelakaan anggota DPRD Lanny Jaya pada 2024 silam.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Cahyo Sukarnito mengatakan saat itu penyelesaian denda adat buntut kecelakaan tak bisa diselesaikan.

"Kalau ada hal seperti itu biasanya Pemda turun tangan untuk menanggulangi, apalagi ini korbannya anggota DPRD kabupaten. Pada saat itu tidak ada penyelesaian karena memang waktu itu (kecelakaan) terjadi pemerintahan ini semuanya pejabatnya Pj, kan enggak bisa mengeluarkan anggaran untuk itu, jadi enggak terbayarlah, enggak sesuai lah ininya yang dirugikan," kata Cahyo saat dihubungi, Senin (18/5).

Cahyo menyebut konflik yang melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma), ini mulanya terjadi dalam ekskalasi kecil. Namun, kini konflik itu jadi meluas.

"Terjadilah perang suku mulai saat itu. Biasanya cuma kecil-kecil, kecil-kecil begitu, sampai puncaknya ini, seperti itu," ujarnya.

Wamendagri turun tangan

Disampaikan Cahyo, pemerintah pusat pun telah turun tangan untuk menyelesaikan konflik dengan mengutus Wamendagri Ribka Haluk

Ribka juga hadir dalam dialog untuk menyelesaikan konflik yang digelar pada Minggu (17/5) lalu.

Selain Ribka, kegiatan itu juga dihadiri Gubernur Papua Pegunungan Jhon Tabo, Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Febriel Buyung Sikumbang, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Roby Suryadi, LO Polda Papua Pegunungan Kombes Andi Yoseph Enoch, Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, Kapolres Lanny Jaya AKBP Frans D. Tamaela serta sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat.

Cahyo menyebut dalam dialog itu Gubernur Papua Pegunungan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta mengajak seluruh masyarakat untuk menahan diri dan menjaga situasi keamanan tetap kondusif.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat Lanny Jaya yang berada di Wamena agar dapat kembali ke daerah asalnya guna mencegah meluasnya konflik sosial.

"Sementara itu, perwakilan masyarakat menyampaikan harapan agar penyelesaian konflik dilakukan melalui mekanisme adat sebagai langkah utama menciptakan perdamaian antara kedua belah pihak," tutur Cahyo.

"Selain itu, masyarakat juga meminta adanya jaminan keamanan dari aparat selama proses perjalanan kembali ke Lanny Jaya," sambungnya

Klaim situasi kondusif

Polda Papua mengklaim situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Wamena, berangsur kondusif pasca dialog tersebut.

Disampaikan Cahyo, untuk menjaga stabilitas keamanan, aparat gabungan Polres Jayawijaya dan Sat Brimob Polda Papua masih disiagakan di tujuh titik strategis di wilayah Kota Wamena.

"Situasi di Wamena saat ini berangsur-angsur kondusif. Masyarakat sudah mulai kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa, baik kegiatan peribadatan, perkantoran maupun aktivitas pendidikan," kata Cahyo dalam keterangannya, Senin (18/5).

Cahyo mengatakan aparat keamanan memastikan akan terus melakukan pengamanan dan pengawalan guna menjamin situasi tetap aman dan terkendali.

Selain melakukan pengamanan di sejumlah titik, aparat gabungan juga terus melaksanakan patroli dan penjagaan terbatas pada lokasi-lokasi tertentu sebagai bentuk kesiapsiagaan.

Polda Papua turut mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar serta bersama-sama menjaga situasi kamtibmas yang aman dan damai di Papua Pegunungan.

Gubernur Papua lapor polisi

Di sisi lain, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo membuat laporan polisi terkait kasus pencemaran nama baik buntut tudingan yang menyebut dirinya telah memperkeruh suasana dan terjadinya konflik perang antarsuku di Wamena.

"Saya datang ini untuk melaporkan voice atau suara yang beredar di medsos maupun grup-grup WhatsApp kemarin sore hingga pagi ini, di mana ada seorang aktor yang menuduh saya memperkeruh suasana dan terjadinya konflik perang antarsuku di Wamena," katanya di Wamena,.

Kata dia, kedatangannya ke Mapolres Jayawijaya sekaligus untuk membuktikan apakah perkataan oknum itu dalam suara yang beredar di medsos itu benar atau salah dan harus bertanggung jawab atas apa yang disampaikan.

"Karena menyampaikan segala sesuatu di medsos itu ada aturannya dan hukumnya. Maka sebagai warga negara yang baik maka saya menempuh jalur hukum supaya adanya asas keadilan hukum setiap warga negara Indonesia," ujarnya.

Dia menegaskan laporan polisi ini juga untuk memberikan pelajaran hukum kepada seluruh masyarakat di mana saja berada khususnya di Papua Pegunungan untuk tidak bicara sembarangan di medsos.

Dia pun meminta agar Polres Jayawijaya menindaklanjuti laporan polisi yang telah dibuat itu dan segera mengungkap aktor yang memberikan pesan suara di medsos tersebut dalam waktu satu minggu. (*)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar