Metode Telunjuk Petir Kiay Romdin Obati Anak Muda dari Kecanduan Narkoba

Kiay Romdin saat mengobati pasien dengan metode telunjuk petir. (net)

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Dalam kegelapan yang melanda jiwa-jiwa terlena karena narkoba, muncullah sosok pemandu jalan terang. Ia menjelma sebagai pahlawan bagi para pecandu yang mengharapkan kesembuhan. dengan mendirikan Pondok Pesantren Hikmah Syahadah, Kyai Haji Romdin memberikan tempat bagi para pecandu untuk memperoleh pertolongan dengan jalan ilmu agama.

Pesantren yang berdiri sejak tahun 1998 di wilayah Tiga Raksa Tangerang ini pada mulanya didirikan untuk mengembangkan seni bela diri islam. Namun, maraknya penggunaan zat psikotropika pada tahun 2000-an membuat ponpes ini beralih fungsi menjadi lembaga rehabilitasi bagi para pecandu narkoba. Romdin mengungkapkan, Pondok Pesantren miliknya berubah fungsi mengikuti kebutuhan masyarakat saat itu.

"Pada tahun 2000 itu, negara kita lagi benar-benar dirundung dengan masalah narkoba. Nah kebetulan, ada yang gangguan jiwa karena narkoba, dibawa kemari, lalu Alhamdulillah sembuh. Awalnya memang untuk pengembangan seni bela diri Islam. Kita juga nggak berpikir membuat pesantren seperti ini. Memang mengalir begitu saja, sesuai dengan kebutuhan masyarakat," Ungkap Romdin di program sosok detikcom.

Tidak hanya membuka pintu bagi para pecandu, dengan tangan terbuka Romdin menerima para pemuda yang memiliki masalah sosial mulai dari siswa yang enggan bersekolah hingga para pelaku kenakalan remaja lainnya yang disebutnya sebagai anak-anak nakal.

Meski menangani para santri dengan masalah yang berbeda, metode rehabilitasi yang diberikan tetaplah sama yaitu menggunakan ilmu agama. Bagi Romdin, bimbingan religi lewat jalan Tuhan merupakan cara yang tepat untuk menjemput kesembuhan.

"Rehabilitasi yang tepat menurut saya itu bimbingan religi. Mereka kita tekankan untuk ibadah kepada Allah. Lalu apa yang dilarang oleh Allah Itu harus kita tinggalkan. Terus kita tumbuhkan Kesadaran-kesadaran itu dengan bimbingan religi," kata Romdin.

Selain itu, para santri juga mendapatkan terapi 'Telunjuk Petir' setiap minggunya. Romdin menjelaskan, terapi ini pada dasarnya adalah meminumkan air doa dan menggoreskan airnya ke tubuh para santri.

Riyadi, salah satu santri Pondok Pesantren Hikmah Syahadah, mengaku bahwa terapi 'Telunjuk Petir' ini benar-benar bekerja dengan baik pada dirinya yang merupakan seorang pecandu narkoba.

"Pas pertama diterapi, kesakitan, ada sesuatu yang keluar dari badan saya. Efeknya (setelah terapi), tidur enak, (karena) pecandu itu susah tidur. Tidur enak, istirahat nyaman. Pokoknya enak. Dan saya mengambil ilmu itu. Ada ilmu itu yang saya incar," jelas Riyadi.

Sementara itu, metode ilmiah juga diterapkan. Menurut Romdin, pemerintah setempat juga mendukung ponpes dengan memberikan pendidikan soal penyalahgunaan zat psikotropika. Bukan hal yang aneh bila sesekali Romdin kedatangan tamu dari BNN atau dinas lain dalam rangka berkolaborasi untuk menjangkau para pecandu yang ingin lepas dari narkoba.

"Pemerintah itu luar biasa sangat mendukung program ini. Sampai pemerintah pusat itu andil memberikan penguatan, pembekalan kepada kita, untuk penanganan masalah narkoba itu. Ibaratnya dikasih ilmu lah sama pemerintah gitu," tutur Romdin.

Dua puluh empat tahun menjalankan pondok pesantren sekaligus lembaga rehabilitasi narkoba dan gangguan jiwa, Romdin bukannya tak pernah mengalami kesulitan. Salah satu tantangan terbesarnya adalah kurangnya penerimaan masyarakat setempat.

Romdin mengaku, ia banyak mendapatkan aduan dari masyarakat. Aduan itu tentu saja berasalan. Masyarakat mengadu karena merasa terganggu dengan para santri yang mengidap gangguan jiwa, karena mereka kerap kali kabur dari ponpes dan mengganggu ketertiban warga.

"Pernah kita ngalamin ada ODGJ kabur, masuk ke dalam rumah. Nah akhirnya masyarakat itu protes lah sama kita. Padahal sudah kita kunci mereka. Karena kebetulan memang fasilitasnya kurang kuat, akhirnya mereka keluar. Awal-awal, kita kan bangunan seadanya, terus juga penjagaannya terbatas," Jelas Romdin.

Bermula dari rasa empati kepada para pecandu narkoba, kini Romdin telah mengabdikan 24 tahun hidupnya sebagai 'Abah' bagi para santri di Pondok Pesantren Hikmah Syahadah. Romdin bertekad, ia akan terus membantu mereka yang terjebak dalam jerat kecanduan narkoba hingga akhir hayatnya.

"(Akan menjalani ini) sampai akhir hayat. Dan mudah-mudahan juga kebaikan ini terus berlanjut sama keturunan. Oleh istilahnya dzurriyah ya, keturunan kita. Karena ini adalah yang sangat baik menurut saya," pungkas Romdin. (*)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar