Baiq Tri Astuti Harumkan Kepri, Raih Best Catwalk di HUT ke-65 IKWI

Baiq Tri Astuti Harumkan Kepri, Raih Best Catwalk di HUT ke-65 IKWI

TRANSKEPRI.COM, BATAM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Provinsi Kepulauan Riau. Sekretaris IKWI Kepri, Baiq Tri Astuti Hudayani, S.Pd., berhasil meraih penghargaan Best Catwalk pada ajang Lomba Busana Adat Nusantara yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 IKWI tingkat nasional.

Kompetisi yang berlangsung selama sepekan menjelang puncak perayaan HUT IKWI pada 21 Juli 2026 tersebut diikuti oleh perwakilan IKWI dari berbagai provinsi di Indonesia. Baiq Tri Astuti tampil memukau dengan balutan busana adat Melayu Kepulauan Riau yang sarat filosofi, sehingga berhasil memikat perhatian dewan juri melalui penampilan yang anggun, berwibawa, serta penuh penghayatan terhadap nilai-nilai budaya Melayu.

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi IKWI Kepulauan Riau, tetapi juga mengangkat marwah budaya Melayu di tingkat nasional melalui ajang yang diikuti peserta dari seluruh Indonesia.

Selain aktif sebagai Sekretaris IKWI Kepri, Baiq Tri Astuti Hudayani juga dikenal sebagai seorang pendidik yang berdedikasi dan merupakan guru teladan di Kota Batam.

Dalam penampilannya, Baiq tidak sekadar memperagakan keindahan busana adat, tetapi juga menyampaikan filosofi mendalam yang terkandung dalam setiap unsur pakaian Melayu.

"Baju adat Melayu tidak lahir sekadar untuk memanjakan mata. Ia adalah bahasa yang tak bersuara, yakni selembar hikayat yang ditenun dengan benang emas, dijahit dengan petuah para leluhur, lalu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa baju kurung yang longgar, berlengan panjang, dan berleher tinggi mengandung pesan tentang kesopanan, kehormatan, serta kemuliaan perempuan Melayu. Menurutnya, keindahan bukan diukur dari seberapa banyak yang ditampilkan, melainkan dari kemampuan menjaga marwah dan harga diri.

Dalam tradisi Melayu, rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan mahkota kemuliaan. Kesopanan menjadi perhiasan yang tak lekang oleh zaman dan selaras dengan tuntunan agama yang menjadi sendi kehidupan masyarakat Melayu.

Songket yang dikenakannya juga memiliki makna filosofis. Kilauan benang emas melambangkan harapan akan keberkahan, kemuliaan, dan rezeki yang halal, sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap kerja keras para penenun yang menjaga warisan budaya Nusantara.

Sementara itu, warna kuning keemasan yang mendominasi busana menjadi simbol daulat, kewibawaan, kehormatan, serta marwah dalam tradisi Melayu. Kemuliaan sejati, menurut Baiq, bukan diukur dari kemewahan, melainkan dari keluhuran budi pekerti.

Setiap aksesori yang dikenakan pun memiliki makna tersendiri. Kerongsang melambangkan penjagaan kehormatan, mahkota dan sanggul menempatkan perempuan sebagai permaisuri dalam keluarga, tusuk sanggul mengajarkan ketelitian dan kesabaran, jurai menjadi simbol kelembutan hati, sedangkan gelang melambangkan doa serta restu orang tua agar setiap langkah kehidupan senantiasa diberkahi.

"Begitulah adat Melayu memaknai busana. Ia bukan sekadar pakaian, melainkan cermin kehidupan. Di dalamnya bersemayam tiga tiang yang tak boleh runtuh, yakni iman, adat, dan marwah. Anggun pada rupa, kukuh pada jiwa. Mewah dalam makna, sederhana dalam laku. Beragama tanpa meninggalkan budaya, berbudaya tanpa meninggalkan agama," tutur Baiq.

Ketua PWI Kota Batam, Muhammad Khafi Ansyari, turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih Baiq Tri Astuti Hudayani. Menurutnya, penghargaan tersebut menjadi bukti bahwa keluarga besar PWI tidak hanya berkiprah di dunia jurnalistik, tetapi juga aktif melestarikan budaya bangsa.

"Prestasi ini adalah kebanggaan bagi IKWI Kepulauan Riau dan keluarga besar PWI Kota Batam. Lebih dari sekadar meraih gelar Best Catwalk, keberhasilan ini menunjukkan bahwa budaya Melayu mampu tampil anggun, bermartabat, dan memikat di panggung nasional. Semoga capaian ini menjadi inspirasi bagi seluruh anggota IKWI untuk terus berkarya, menjaga warisan budaya, serta menghadirkan prestasi yang membanggakan daerah dan bangsa," ujar Muhammad Khafi Ansyari.

Prestasi Baiq Tri Astuti Hudayani menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat diwujudkan melalui berbagai ruang, termasuk ajang nasional yang mengedepankan kekayaan busana adat Nusantara. Keberhasilan tersebut sekaligus memperkuat eksistensi budaya Melayu Kepulauan Riau sebagai warisan luhur yang tetap relevan, bernilai, dan membanggakan di tingkat nasional.


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar