PESAN DARI PERTEMUAN AMSAKAR-LI CLAUDIA DENGAN RANI RAFITRIYANI
Ahad, 26 April 2026 - 15:48:42 WIB
Oleh: Rinaldi Samjaya *
SIANG itu, Kamis (23/04/2026), lantai Delapan Gedung Badan Pengusahaan (BP) Batam terasa berbeda.
Ruangan yang sehari-hari menjadi pusat kendali kebijakan itu, mendadak menghadirkan suasana yang lebih hangat. Bukan sekadar pertemuan formal, melainkan perjumpaan yang diam-diam menyimpan cerita panjang tentang relasi, kebersamaan dan sebuah harapan.
Di ruangan itu, hadir Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam sekaligus Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra serta Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Batam, Rani Rafitriyani.
Saya hadir mendampingi Rani dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Umum I KONI Batam. Bersama Sekretaris Umum Helmi Hatta, kami berlima duduk dalam satu ruang yakni ruang kerja Kepala BP Batam. Hanya lima orang. Tapi percakapan yang lahir terasa jauh lebih besar dari jumlah orang yang hadir.
Ada satu kalimat yang langsung mencairkan suasana.
“Rani, kenapa baru hari ini jumpa kami?”
Kalimat itu datang dari Li Claudia. Disampaikan ringan, akrab, tapi cukup untuk membuka ruang dialog yang lebih jujur. Tidak kaku. Tidak berjarak.
Dan di situlah sesuatu yang menarik mulai terasa.
Selama ini, publik Batam tahu atau setidaknya merasa bahwa ada garis tak kasat mata antara kepemimpinan Batam hari ini dan sebelumnya. Bahwa politik pernah membelah. Bahwa nama besar di belakang Rani, yakni Muhammad Rudi, memiliki sejarah panjang yang tak bisa dilepaskan dari dinamika kekuasaan di kota ini.
Namun siang itu, narasi yang muncul justru berbeda.
Li Claudia tidak menghindari masa lalu. Ia justru mengakuinya.
“Rani, Bapakmu, Pak Rudi, punya jasa besar membangun Batam. Apa yang kita nikmati hari ini adalah bagian dari itu,” ucapnya.
Kalimat itu sederhana, tapi memiliki bobot yang dalam. Ia bukan sekadar penghormatan, melainkan jembatan. Sebuah sinyal bahwa membangun kota tidak harus dimulai dengan menafikan yang sebelumnya. Kalimat yang hanya diucapkan oleh karakter pemimpin berjiwa besar.
Li Claudia melanjutkan dengan nada yang tegas, namun tetap bersahabat.
Kini, katanya, ia dan Amsakar mendapat amanah untuk memimpin Batam ke depan. Dan untuk itu, semua pihak harus dirangkul, termasuk KONI.
Tidak ada diksi yang memisahkan. Tidak ada bahasa yang meninggikan diri.
Yang ada justru ajakan: bersama-sama.
Di sisi lain, Amsakar Achmad memperkuat pesan itu dengan cara yang lebih reflektif. Gaya bicaranya tenang, terukur, dan terasa seperti seseorang yang memahami betul perjalanan panjang yang telah ia lalui.
Ia tidak mengambil jarak dari masa lalu. Ia justru mengikat dirinya di sana.
“Dua periode saya mendampingi Pak Rudi. Kelebihan dan kekurangannya, itu juga bagian dari saya,” ujarnya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi dalam dunia politik, pengakuan seperti itu jarang disampaikan secara terbuka.
Tidak defensif. Tidak juga ofensif.
Hanya jujur.
Dan mungkin, di situlah letak kekuatan Amsakar, ia tidak berusaha menjadi orang lain. Ia berdiri sebagai kelanjutan, bukan sebagai pemutus.
Sementara itu, Rani Rafitriyani merespons dengan sikap yang mencerminkan kedewasaan dan tidak ada sikap canggung.
Ia datang sebagai pemimpin organisasi olahraga. Fokus. Profesional.
Rani berbicara tentang Porprov VI Kepri yang akan digelar November mendatang di Tanjungpinang. Tentang target juara umum untuk keenam kalinya. Tentang bagaimana prestasi olahraga bisa menjadi kebanggaan daerah.
Namun lebih dari itu, ia juga menunjukkan satu hal penting: kesiapan untuk berjalan seiring dengan visi Amsakar–Li Claudia.
Tidak ada tarik-menarik. Tidak ada resistensi.
Yang ada adalah keselarasan.
Pertemuan yang berlangsung lebih dari satu jam itu terasa mengalir. Tidak terburu-buru. Tidak pula kaku seperti protokoler pada umumnya.
Sesekali diselingi senyum. Kadang juga tawa ringan.
Dan di tengah percakapan itu, saya menangkap satu hal yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: keinginan untuk merangkul.
Terlihat dari sosok Li Claudia.
Perempuan kelahiran Dabo Singkep itu tampak bukan hanya sebagai pemimpin administratif, tetapi juga sebagai figur yang ingin membangun jembatan sosial. Ia berbicara dengan energi yang hangat, keibuan, tanpa kehilangan ketegasan.
Ada kesan tulus. Ada juga kesadaran bahwa Batam terlalu besar untuk dibangun dengan sekat-sekat.
Sementara Amsakar, dengan pengalaman panjangnya, hadir sebagai penyeimbang. Ia seperti jangkar, menjaga arah tetap stabil, sekaligus memberi ruang bagi dinamika.
Dan Rani? Ia adalah representasi generasi muda, generasi penerus, tapi tidak terjebak di dalamnya.
Ketika pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama, suasana terasa ringan. Tidak tampak bayang-bayang rivalitas yang dulu terjadi.
Yang tersisa adalah satu gambaran sederhana: Bukan tentang siapa yang dulu berkontestasi dan berbeda pilihan politik.
Tapi tentang siapa yang hari ini mau berjalan bersama. (*)
RINALDI SAMJAYA. (ist) * Penulis: Waketum I KONI Batam, Advokat dan Juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kepri
Tulis Komentar