Kembali Naik, Harga Minyak Mentah Dunia Sentuh Level USD 114 per Barel

Ilustrasi Migas

TRANSKEPRI.COM, JAKARTA - Harga minyak berbalik menguat atau rebound di perdagangan Asia pada Jumat (4/3) pagi. Kenaikan harga minyak dipicu gangguan ekspor minyak Rusia akibat sanksi Barat melebihi prospek lebih banyak pasokan Iran dari kemungkinan kesepakatan nuklir.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei melonjak hingga sentuh level USD 114,23 per barel atau naik USD 3,26 atau 3,0 persen.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman April naik USD 4,15 atau 3,9 persen, menjadi diperdagangkan di USD 111,82 per barel setelah menyentuh level tertinggi USD 112,84 di awal sesi. Kontrak turun 2,6 persen di sesi sebelumnya.

Pasar global tenggelam sementara harga minyak naik di tengah tanda-tanda eskalasi konflik Rusia-Ukraina setelah dilaporkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Ukraina, yang terbesar di Eropa, terbakar setelah serangan oleh pasukan Rusia.
Harga minyak naik di tengah kekhawatiran bahwa sanksi Barat terhadap Rusia atas konflik Ukraina akan mengganggu pengiriman dari Rusia, yang merupakan pengekspor minyak mentah dan produk minyak terbesar di dunia. Aktivitas perdagangan minyak mentah Rusia sudah tampak membeku karena pembeli ragu-ragu melakukan pembelian karena sanksi.

“Kenaikan harga terkait dengan gangguan aktual dan yang dirasakan terhadap ekspor minyak Rusia seharusnya lebih dari mengimbangi penurunan harga dari potensi pasokan minyak mentah Iran yang lebih banyak,” kata Analis Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar.
Kenaikan Mingguan Terkuat
Harga berayun dalam kisaran USD 10 pada Kamis (3/3) tetapi menetap lebih rendah untuk pertama kalinya dalam empat sesi karena investor fokus pada kebangkitan kembali kesepakatan nuklir Iran yang diharapkan dapat meningkatkan ekspor minyak Iran dan mengurangi pasokan global yang ketat.

Harga minyak akan membukukan kenaikan mingguan terkuat sejak pertengahan 2020, dengan WTI naik lebih dari 22 persen dan Brent naik 16 persen setelah mencapai level tertinggi dalam satu dekade minggu ini.
Dhar dari Commonwealth Bank memperkirakan Brent mencapai rata-rata USD 110 per barel pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

“Namun, risikonya adalah harga naik di atas perkiraan kami dalam jangka pendek. Bahkan masuk akal bahwa perdagangan berjangka Brent mencapai setinggi USD 150 per barel,” katanya.

(mrdk)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar