Bencana Sekunder dari Puncak Gunung Semeru Mengancam Warga dan Penerbangan

Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Semeru diimbau waspada terhadap bahaya bencana skunder. Pasalnya, terdapat tumpukan material vulkanik./Foto/SINDOnews/Yuswantoro

TRANSKEPRI.COM. LUMAJANG - Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Semeru diimbau waspada terhadap bahaya bencana skunder dari Gunung Semeru. Pasalnya, terdapat tumpukan material vulkanik di puncak Gunung Semeru.

Sewaktu-waktu material vulkanik tersebut bisa meluncur ke bawah, melalui aliran-aliran sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru akibat adanya hujan deras di kawasan puncak.

"Sejak tahun 2010 di kawah Jonggring Seloko yang merupakan kawah termuda Gunung Semeru, terus mengalami fase pembentukan kubah lava," terang Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Liswanto, Minggu (18/1/2020).
Saat ini material vulkanik yang terbentuk sejak tahun 2010 tersebut, diperkirakan telah mencapai lebih dari 100 juta meter kubik. "Pada awal pemantauan yang kami lakukan tahun 2010, baru terbentuk kubah lava sekitar 5 meter kubik. Kubah lava tersebut terus tumbuh, dan tahun 2017 kami amati sudah mencapai sekitar 100 juta meter kubik," tuturnya.

Material vulkanik ini kondisinya labil, sehingga ketika terjadi dorongan energi dari dalam kawah gunung, atau terkena gerusan air hujan dengan intensitas tinggi, bisa runtuh dan meluncur ke bawah menjadi lahar hujan.

Selain lahar hujan, bahaya bencana skunder yang perlu diwaspadai dari Gunung Semeru, menurut Liswanto, adalah semburan material vulkanik yang dipicu oleh dorongan energi dari dalam kawah.

"Material vulkanik ini bisa mengganggu jalur penerbangan pesawat dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang, karena sebaran material vulkaniknya berada di kawasan jalur penerbangan. Ini yang selalu kami pantau dan waspadai, demi keselamatan penerbangan," ungkapnya.

Pria yang sudah 25 tahun bertugas mengamati gunung api tersebut menjelaskan, keberadaan tumpukan material vulkanik di sekitar kawah tersebut bisa juga menimbulkan sumbatan pada saluran magma dari dalam kawah.

"Apabila terjadi sumbatan dan ada dorongan energi yang besar dari dalam kawah, dikawatirkan akan memicu munculnya pergerakan magma menembus celah batuan yang lebih muda di sekitar kawah," terang pria asli Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Dia menyebutkan, dalam sejarahnya kawah Gunung Semeru terus berpindah-pindah. Pada awalnya, kawah berada di wilayah Ayeg-ayeg, lalu Kalimati, terus berpindah ke Mahameru, dan saat ini berada di Jonggring Seloko.

Periode perpindahannya, diakuinya belum pernah diketahui berapa ratus tahun terjadinya. Yang pasti, kawah Jonggring Salaka sebagai kawah termuda usianya sudah mencapai ratusan tahun.

Pada tahun 1941, dia menyebutkan, sempat terjadi letusan magma di kawah baru, yang dikenal masyarakat sebagai Kawah Kemerling. Letusan magma ini terjadi di bawah Kawah Jonggring Seloko, dan berjarak sekitar 4 km dari permukiman warga.

Potensi bahaya bencana alam lainnya dari Gunung Semeru, yang memiliki tipe letusan stombolian dengan kubah lava tersebut, menurut Liswanto adalah adanya guguran awan panas dari puncak gunung. "Tahun 1994 luncuran awan panas mencapai 14 km dari puncak, sementara tahun 2006 mencapai sejauh 4 km dari puncak," ungkapnya.

Terkait aktivitas vulkanik gunung dengan ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), Liswanto mengatakan, setiap saat gunung ini selalu mengalami letusan kecil. Hingga saat ini statusnya berada di level II atau wapada.

Dari hasil pengamatan pada Jumat (17/1/2020) pukul 24.00 WIB, terjadi dua kali letusan yang mengeluarkan kepulan asap putih kelabu dengan ketinggian 400-600 meter dari bibir kawah, dan condong ke arah utara.

Sementara untuk kegempaan, teramati terjadi gempa letusan sebanyak 23 kali dengan amplitudo 9-23 mm, durasinya 23-221 detik. Gempa guguran sebanyak empat kali, beramplitudo 3-9 mm dengan durasi 68-122 detik. Serta, gempa hembusan sebanyak empat kali, dengan amplitudo 3-8 mm durasinya 40-67 detik.

Kabid Mitigasi Gunung Api PVMBG Kementrian ESDM, Hendra Gunawan menegaskan, saat ini tidak ada kenaikan status Gunung Semeru.

"Statusnya tetap berada di level II, atau waspada. Kejadian letusan di Gunung Semeru, merupakan kejadian biasa, umumnya lebih sering dideteksi sebagai gempa letusan," tuturnya.

Sesekali letusan terlihat bila kolom abu vulkaniknya mencapai tinggi 400 m di atas puncak. Masyarakat dimintai tetap waspada, dengan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas, serta mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko. (ssb)


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar