Mabuk Cinta, Perbuatan yang Paling Keras Azab dan Sedikit Pahalanya?

Orang yang sedang dimabuk cinta sering digambarkan sebagai orang yang paling celaka, paling hina, paling sibuk dan paling jauh dari Rabb mereka di antara seluruh manusia. Foto ilustrasi/ist

Mabuk cinta atau dalam bahasa Arabnya al 'isyq digambarkan sebagai suatu jalan yang berbahaya, licin, tidak akan ada yang bisa menyelamatkan diri dari bahayanya kecuali Allah Ta'ala. Sudah banyak korban yang berjatuhan dengan dampak negatif yang tak terhitung. Sampai-sampai orang yang sedang dimabuk cinta digambarkan sebagai orang yang paling celaka, paling hina, paling sibuk dan paling jauh dari Rabb mereka di antara seluruh manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

“Orang-orang yang sedang dimabuk cinta termasuk orang yang paling keras azabnya dan paling sedikit pahalanya. Apabila orang yang dimabuk asmara itu masih tertambat hatinya pada orang yang dicintai, masih tunduk kepadanya, amak akan terkumpul pada dirinya berbagai kerusakan yang tidak bisa terhitung jumlahnya oleh siapapun kecuali oleh Allah Ta'ala, walaupun ia selamat dari perangkap dosa besar. Terus-menerusnya hati pada keadaan seperti itu, lebih berbahaya daripada seseorang yang melakukan sebuah dosa kemudian bertaubat, maka dengannya pengaruh dosa tersebut hilang dari hatinya,".
Mereka diibaratkan dengan orang yang sedang mabuk dan orang yang hilang akalnya, sebagaimana dikatakan oleh beberapa penyair berikut ini:

Dalam sya'irnya, Abu Husnainah menjelaskan bahaya mabuk cinta dan memberikan kabar gembira terhadap mereka yang tidak terperangkap di dalamnya, ia berkata:

"Mabuk cinta dapat menyeret diri ke dalam kehinaan,
tentu aku iri dengan mereka yang tidak dimabuk cinta".

Abdul Muhsin ash-Shuri berkata:

Cinta hanyalah jalan berbahaya
jauh dari keselamatan dan tempat yang licin

Mereka juga mengatakan, "Karena perasaan cinta, seorang raja bisa menjadi menjadi hamba sahaya, seorang sultan bisa menjadi budak",

Kemudian penyair, Al Kharaiti berkata, “Abu Ja’far Al Abdi pernah membacakan (beberapa bait syair) padaku:

“Seandainya Allah menyelamatkanku dari rasa cinta,
Niscaya aku tidak akan kembali kepadanya,
Dan aku tidak akan menggubris perkataan yang mencelaku,
Siapakah lagi yang akan menyelamatkanku dari rasa cinta setelah aku terkena jerat-jeratnya…”

Ketika menjelaskan bahaya yang diakibatkan mabuk cinta, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ;" Mencintai idola-idola yang diharamkan dan merindukannya merupakan salah satu penyebab kesyirikan. Setiap kali seorang hamba lebih dekat kepada kesyirikan dan jauh dari keikhlasan, maka setiap kali itu juga kegilaannya terhadap idola-idola itu bertambah. Demikian juga sebaliknya, setiap kali ia memperbanyak keikhlasan dan memperkuat ketauhidan, maka dia akan semakin jauh dengan kegilaan terhadap orang yang diidolakan.

Bahaya mabuk cinta begitu besar, begitu pula dengan dosa yang melakukannya. Mereka yang telah telah terjerumus ke dalam perangkap maksiat ini, baik pelakunya, orang yang dicintai, maupun orang yang membantu, wajib hukumnya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dinukil dari kitab "At-Taubah Wadziifatul 'Umur" yang ditulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd menjelaskan,
apabila pelaku kemaksiatan ini ingin bertaubat, ia dapat melakukannya dengan cara meninggalkan perbuatan itu, berkeinginan kuat dan berusaha keras untuk menjalaninya, serta hendaklah ia tidak menceritakan masalahnya kepada orang yang dicintainya.

Janganlah ia mengingat, menyanjung, menemui, ataupun membantunya. Ia harus memutuskan setiap perkara yang dapat mengingatkan kepada kekasihnya. Hendaklah ia melakukan perkara-perkara yang sabar terhadap cobaan yang dialaminya, terutama pada awal-awal bertaubat.

Apabila orang yang dijadikan sebagai kekasihnya itu ikut membantu atau menjadi penyebab terjadinya kemaksiatan tersebut, hendaklah ia bertaubat kepada Allah. Bila ia seorang wanita, harus bertaubat kepada Allah dari perbuatan merayu dan berhias untuk yang dicintainya, bertaubat dari bercinta dengannya, bertaubat untuk bertemu dengannya atau berbicara dan mengobrol bersamanya, serta bertaubat untuk tidak mengirim surat kepadanya.

Sedang bagi orang-orang yang membantu terjalinnya hubungan cinta itu, hendaklah mereka pun bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan meninggalkan apa yang pernah dilakukan. Hendaklah setiap diri menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk dalam kategori tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Karena dengan melakukan itu, berarti ia telah menyulut api kerinduan dan mengobarkan baranya.

Dengan perbuatan tersebut, ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Apa yang dilakukannya merupakan dosa dan perbuatan tidak terpuji, tidak termasuk perbuatan baik dan bukan pula perbuatan yang mengandung dua kemudharatan sehingga boleh diambil mudharat yang lebih ringan dari keduanya. Bahkan, kerusakan ini dapat mengarah pada kerusakan hati dan hancurnya agama.
Adakah kerusakan yang lebih besar daripadanya? Dijelaskan Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, kerusakan paling berbahaya akibat melakukan kemaksiatan itu adalah kesengsaraan jiwa atau kematian, sebagai akibat melakukan apa yang diharamkan. Kalau tidak demikian, maka menahan diri dari perbuatan ini dapat membuahkan kesuksesan dan keselamatan.

Obat Mabuk Cinta

Meskipun masalah mabuk asmara ini merupakan masalah pelik dan sulit untuk dapat terlepas dari jeratannya, namun untuk bisa bebas dan terlepas darinya bukanlah perkara yang tidak mungkin atau mustahil. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya dan setiap obat tidak akan bermanfaat kecuali apabila sesuai dengan penggunaannya.

Oleh karena itu, apabila orang terjangkit penyakit ini condong kepada satu obat yang mujarab, kemudian berusaha mencarinya, niscaya ia akan menggapai apa yang ia cita-citakan dan akan mendapat bantuan untuk merealisasikan cita-citanya itu. Kalau tidak demikian, maka penyakitnya akan sulit diobati, bahkan bisa jadi akan bertambah parah.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : "Obat hanya akan menyembuhkan bagi siapa yan mau menerimanya. Adapun orang yang menolaknya, maka obat tersebut tidak akan bermanfaat baginya."

Pada masalah penyakit hati karena cinta itu, disebutkan secara umum beberapa sebab yang dapat membantu seseorang untuk meninggalkan kebiasaan melakukan kemaksiatan ini, yaitu dengan cara :

1. Berdoa'

Berdoa, yang dilakukan dengan merendahkan diri dan bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, benar-benar mengharapkan-Nya dengan penuh keikhlasan dan memohon ampunan-Nya. Sungguh orang yang ditimpa oleh penyakit ini termasuk orang yang dalam keadaan terhimpit, sedang Allah SWT. mengabulkan permintaan orang yang berada dalam keadaan darurat apabila ia memohon kepada-Nya.

2. Menundukkan pandangan

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : "Orang yang secara tidak sengaja memandang sesuatu yang ia anggap baik, kemudian merasakan kenikmatan memandangnya, padahal perbuatan itu haram, maka wajib baginya untuk memalingkan pandangan. Ketika ia mengulangi pandangannya atau terus memandangnya, maka ia telah terjatuh pada perbuatan tercela, baik menurut agama maupun akal.

Jika ditanyakan oleh seseorang : "Apabila perasaan cinta muncul pada pandangan pertama, lalu mengapa orang yang memandang harus dicela?"

Jawabannya adalah : " Apabila tatapan itu hanya sekilas, niscaya tidak akan menumbuhkan rasa cinta. Pandangan yang dapat menumbuhkan perasaan cinta adalah pandangan yang terus-menerus terhadap objek yang dipandang, dengan ukuran yang sekiranya dapat menumbuhkan perasaan itu. Perbuatan ini dilarang. Seandainya perasaan cinta timbul karena pandangan pertama yang hanya sekilas tersebut, maka tidak akan mudah untuk dapat mengatasinya."

Orang tersebut bertanya lagi : "Apakah obat mabuk asmara apabila perasaan muncul pada pandangan pertama?"

Jawabannya adalah : "Obatnya adalah memalingkan pandangan mata dari objek yang dipandang. Satu pandangan mata sama seperti biji-bijian yang ditebarkan di atas tanah; apabila biji-bijian itu tidak disirami dan diperhatikan, maka ia tidak akan tumbuh. Namun, apabila disirami, niscaya ia akan tumbuh segar. Demikian juga dengan tatapan mata."

Beliau juga berkata : "Apabila seseorang terbiasa mengulangi tatapan mata, maka tatapan kedualah yang harus dikhawatirkan dan harus dijaga. Oleh karena itu, janganlah meremehkannya karena bisa jadi pandangan itu meninggalkan sayatan cinta yang menyakitkan."

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : "Maka dari itu, hendaklah orang yang berakal tidak menceburkan diri ke dalam mabuk asmara supaya ia tidak terjerumus kepada semua kerusakan ini atau sebagiannya. Barang siapa melakukannya berarti ia mengaja menjerumuskan dirinya yang telah tertipu oleh jiwanya. Apabila jiwanya hancur, maka dialah yang menghancurkannya. Seandainya kalau bukan karena terlalu sering memandang wajah kekasihnya dan karena keinginannya yang kuat untuk selalu dapat menghubunginya, niscaya perasaan cinta itu tidak akan pernah tumbuh dalam hatinya."

3. Merenung dan selalu mengingat Allah
4. Menjauh dari orang yang dicintai
5. Menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat
6. Menikah
7. Sering mengunjungi orang sakit
8. Mengikuti majelis zikir
9. Berkemauan keras untuk menekan hawa nafsu
10. Jangan pernah meninggalkan salat
Hendaklah orang yang dimabuk asmara senantiasa melaksanakan salat, khusyu' di dalamnya, serta menyempurnakan rukun-rukunnya baik secara lahir maupun batin.

Allah Ta'ala berfirman :
ٱتْلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيْكَ مِنَ ٱلْكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Ankabut : 45)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Sesungguhnya dalam salat itu terdapat pencegahan terhadap perkara-perkara yang dibenci, yaitu keburukan dan kemunkaran. Selain itu di dalamnya juga terdapat kenikmatan yang paling lezat yaitu berzikir kepada Allah Ta'ala".

Wallahu A'lam


[Ikuti TransKepri.com Melalui Sosial Media]




Tulis Komentar