Etika dan Komitmen Politik, Marlin Agustina Harus Menjadi Antitesis

Senin, 28 Juni 2021

Wakil Gubernur Kepri, Marlin Agustina

Oleh: Aldi Samjaya (Pemerhati Politik di Batam)

 

Mungkin praduga saya hampir sama dengan praduga banyak orang, ketika untuk pertama kali mendengar nama Marlin Agustina digaungkan maju dalam perhelatan pemilihan kepala daerah di Provinsi Kepri pada awal 2020 lalu.

"Ah, emang apa hebatnya sih. Kan ibu rumah tangga, bisa apa tuh Bu Marlin".

"Itukan karena beliau isteri Wali Kota Batam dan isteri Ketua Partai Nasdem. Kalau ngak, mana mungkin bisa diusung. Banyak kader lain yang lebih hebat dibandingkan beliau".

Itu beberapa ungkapan yang banyak saya dengar, saat nama perempuan kelahiran Karimun ini benar-benar menyatakan kesiapannya bertarung di perhelatan politik lima tahunan tersebut.

Selanjutnya, dalam beberapa kesempatan saya sempat melakukan interaksi dengan Bu Marlin. Saya mulai melihat beliau berbicara, berpidato dan berinteraksi dengan masyarakat.

Kesan pertama saya. Jujur, saya terkesan dengan beliau. Cara bicaranya yang mengalir tanpa retorika, layaknya seorang politisi yang masih bersih dan polos, menjadi magnet buat mantan ibu Bhayangkari ini.

Cara berkomunikasi dan berinteraksi Marlin secara personal dengan siapapun, di luar seperti yang diasumsikan banyak orang kepada dirinya. Saya menyaksikan, Marlin sangat menghargai siapapun lawan bicaranya.

Marlin sepertinya tahu betul bahwa orang besar bukan dilihat dari apakah dia seorang isteri pejabat atau orang yang berkecukupan. Tapi orang besar dilihat dari cara bagaimana dia menghargai orang kecil.

Sejak saat itu, saya sudah memprediksi. Sosok Marlin bakal mendapat tempat di hati banyak warga Kepri. Dan saya yakin, setiap orang yang mengenal dan pernah berinteraksi dengan Marlin, akan memiliki kesan positif.

Benar, pasangan Ansar-Marlin akhirnya menuai keberuntungan. Dan untuk ukuran seorang ibu rumah tangga. Untuk sosok yang masih hijau dan polos dalam perpolitikan, raihan suara Marlin khususnya di Kota Batam, saya nilai sudah sangat bagus.

Apalagi semua figur yang menjadi pesaingnya pada Pilkada itu, adalah sosok-sosok hebat yang ketokohannya sudah sangat mengakar di Batam pada khususnya.

Hingga saat ini, sudah empat bulan lebih Ansar-Marlin memimpin Provinsi Kepri. Kabar Ketidakharmonisan duet yang baru seumur jagung ini juga turut menghiasi pemerintahan yang mereka arungi.

Komitmen politik, itulah yang bisa saya tangkap penyebab dari ketidakharmonisan yang terjadi. 
Disini, Marlin harus mulai memahami dan menyadari bahwa ternyata politik itu, dunia yang berbeda.

Ternyata politik itu kejam. Ternyata dalam politik itu yang namanya janji dan komitmen sah-sah saja untuk ditabrak dan dilanggar. Dan Marlin harus membiasakan diri untuk hal itu.

Kendati begitu, Marlin tak boleh larut. Marlin harus menjadikan kejadian ini sebagai momentum untuk menjadi sosok yang bisa memutarbalikkan semua mitos jelek tetang sebuah etika dan komitmen politik. Marlin harus mampu menjadi antisesis, bahwa tidak selamanya politik itu mengabaikan etika dan komitmen politik.

Teruslah berkarya dan berbuat untuk kemajuan Provinsi Kepri Bu Marlin. Jalan ke depan masih sangat panjang, warga Kepri memiliki harapan yang besar dengan Bu Marlin. Kepri memiliki harapan yang besar akan hadirnya seorang sosok pemimpin yang berkarakter dan menjunjung tinggi etika dan komitmen politik.

Dan dedikasi yang Bu Marlin persembahkan atas raihan Best Women Inspiratif untuk anak-anak Kepri, adalah wujud dan bukti yang tak terbantahkan bahwa apa yang Bu Marlin lakukan, mendapat pengakuan dari publik. Teruslah berbuat yang terbaik dan buatlah masyarakat Kepri jatuh cinta dengan kiprah yang anda miliki. ***