Belajar di Rumah, Siswa Ekonomi Kurang Mampu Potensi Tertinggal

Selasa, 07 Juli 2020

Siswa di rumah belajar melalui saluran TVRI

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA-  Belajar di rumah bagi siswa kurang mampu dinilai berpotensi tertinggal. Kemendikbud minta para guru asesmen di awal tahun ajaran baru. 

"Ketika masuk bersama satu kelas, variasi kemampuan niscaya akan berbeda-beda. Nah yang paling rentan tertinggal anak-anak yang secara sosial ekonomi kekurangan," ungkap Kepala Badan Penelitian, Pengembangan dan Perburukan Kemendikbud Totok Suprayitno melalui konferensi video, Senin (6/7).

Hal ini, katanya, didapat dari evaluasi terhadap pembelajaran pada sejumlah negara ketika negaranya dalam bahaya sehingga sekolah harus dihentikan. Misalnya di Palestina.

Ia mengatakan ketika belajar di rumah terdapat siswa akan mendapat variasi cara, waktu hingga efektifitas belajar. Semua ini bergantung erat dengan kondisi dan akses yang dimiliki siswa, termasuk akses internet dan teknologi.


Untuk itu Totok menginstruksikan agar semua guru melakukan asesmen di awal tahun ajaran baru. Ini supaya sebelum pembelajaran dimulai, guru bisa mengidentifikasi siswa yang tertinggal.

"Guru harus identifikasi mana anak yang tertinggal. Dan itu yang perlu didapatkan prioritas pertama untuk ditolong," ujarnya.

Ketimpangan kemampuan siswa ekonomi menengah ke bawah dengan ekonomi menengah ke atas, katanya, kerap didapati ketika situasi normal. Ia menduga ketimpangan ini bakal makin menjadi di tengah pandemi.

Karena banyaknya kendala akses teknologi yang mengganjal jalannya pembelajaran jarak jauh bagi siswa kurang mampu.

Bentuk asesmennya sendiri diserahkan kepada masing-masing guru sesuai karakteristik anak. Jadi asesmen bukan dilakukan pusat seperti ujian nasional.(007)