Presiden Brasil Dituduh Manfaatkan Corona untuk Musnahkan Masyarakat Adat

Sabtu, 06 Juni 2020

Ilustrasi: Masyarakat adat Amazon

TRANSKEPRI.COM.BRASILIA- Dampak wabah Corona di Brasil terus meluas, bahkan sampai menyebar hingga ke kawasan hutan hujan Amazon yang dihuni masyarakat adat.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro pun dituding memanfaatkan wabah ini untuk memusnahkan masyarakat suku adat. Seperti dilansir AFP, Sabtu (6/6/2020), tudingan itu dilontarkan kepala adat ikonik Raoni Metuktire. Kepala Raoni adalah salah satu pembela kawasan Amazon yang paling terkenal di antara masyarakat adat yang tinggal di sana.

Ketua etnis Kayapo itu tanpa berbasa-basi mengkritik keras Bolsonaro atas perlakuannya terhadap masyarakat adat Brasil dan penanganan pandemi.

"Bolsonaro ingin mengambil keuntungan dari penyakit ini. Dia mengatakan, 'Orang Indian harus mati, kita harus menghabisi mereka'," kata Raoni berbicara melalui penerjemahnya.

Sekarang usia Raoni sekitar 90-an tahun, ia telah berkeliling dunia meningkatkan kesadaran tentang ancaman yang ditimbulkan oleh deforestasi.

Bolsonaro selama ini telah menghadapi kritik keras, karena mendorong untuk membuka lahan Amazon yang dilindungi untuk pertanian dan pertambangan. Menurutnya itu akan bermanfaat bagi masyarakat adat.

Akan tetapi, para pemimpin dan aktivis masyarakat adat skeptis, dan telah mengutuk Bolsonaro atas beberapa pernyataannya. Termasuk bahwa masyarakat adat "menjadi semakin manusiawi, seperti kita."

Bolsonaro juga menghadapi kritik atas penanganan pandemi Corona ini. Bolsonaro terus meremehkan masalah Corona, bahkan ketika jumlah kematian akibat Corona melonjak di Brasil.

Masyarakat adat di Amazon sangat rentan terhadap penyakit dari dunia luar. Ada kekhawatiran yang meningkat akan keselamatan mereka ketika virus itu melonjak di Brasil. Brasil kini telah mencatat lebih dari 34.000 kematian akibat Corona, angka tertinggi ketiga di dunia, setelah Amerika Serikat dan Inggris.

Wilayah Amazon adalah salah satu daerah yang paling terpukul, termasuk penduduk suku adat, yang memiliki tingkat kematian COVID-19 dua kali lebih tinggi.

Menurut catatan Asosiasi Masyarakat Adat Brasil (APIB), setidaknya ada 211 warga adat Brasil telah meninggal dunia akibat virus ini dan 2.178 terinfeksi.

Pejabat hak asasi manusia dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Amerika Serikat, memperingatkan pada Kamis (5/6) virus itu menimbulkan "risiko besar" bagi masyarakat adat Amazon.

"Penyakit yang disebut Corona ini sangat berbahaya. Sudah mulai membunuh orang-orang saya, di setiap wilayah," kata Raoni.

Tapi Bolsonaro, menurut Raoni, "tidak peduli dengan kita,". Dia menambahkan "pelayanan kesehatan yang buruk," ujarnya. (tm)