Ditemukan Planet Mirip Bumi, Namanya Kepler-1649c

Ahad, 19 April 2020

Ditemukan planet lain di antariksa yang besar dan karakternya mirip dengan bumi (foto:internet)

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Teleskop luar angkasa millik NASA, Keppler menemukan planet menyerupai bumi. Jaraknya 300 juta tahun cahaya dan diberi nama Kepler-1649c.

Menurut studi terbaru mengungkapkan bahwa dari 2.681 exoplanet yang terlihat oleh misi Keppler yang beroperasi pada tahun 2009 dan 2018. Walau misi Keppler pensiun pada 2018, tetapi datanya masih dapat dipakai untuk menghasilkan lebih banyak penemuan di tahun-tahun mendatang. Saat ini, misi TESS (Transiting Exoplanet Survey Satellite) NASA adalah pemburu planet terbaru yang mencari exoplanet.

Planet Kepler-1649c ini 1,06 kali lebih besar dari Bumi dan sekitar 75% jumlah cahaya dari yang didapat Bumi dari matahari. Ini menunjukkan bahwa suhu permukaan planet itu bisa serupa dengan Bumi.

"Dunia yang menarik dan ini memberi kita harapan lebih besar bahwa Bumi kedua terletak di antara bintang-bintang, menunggu untuk ditemukan," Thomas Zurbuchen, associate administrator of NASA's Science Mission Directorate di Washington, seperti dikutip dari Space.com, (16/4/2020).
 

"Data yang dikumpulkan oleh misi seperti Keppler dan Satelit Survei Transit Exoplanet kami (TESS) akan terus menghasilkan penemuan luar biasa ketika komunitas sains memperbaiki kemampuannya untuk mencari planet yang menjanjikan tahun demi tahun," tambahnya.

Menurut Zurbuchen, masih banyak yang tidak diketahui tentang Kepler-1649c, termasuk atmosfernya. Perhitungan yang ditinjau dari ukuran bisa saja terjadi kesalahan karena objek yang diteliti begitu jauh.Tetapi berdasarkan apa yang diketahui, Kepler-1649c sangat menarik bagi para ilmuwan yang mencari dunia dengan kondisi yang berpotensi layak huni.

"Dari semua planet yang diberi label salah, yang satu ini [kepler-1649c] sangat menarik. Bukan hanya karena berada di zona layak huni dan seukuran Bumi, tetapi karena bagaimana ia dapat berinteraksi dengan planet tetangga," kata Andrew Vanderburg, seorang peneliti dari University of Texas.

"Jika kita tidak melihat pekerjaan algoritma dengan sungguh-sungguh, kita akan melewatkannya," ujarnya. (tm)