
135 Siswa Lulus Tanpa Remedial, SMKN 7 Batam Dorong Uji Kompetensi Jadi Role Model SMK
TRANSKEPRI.COM, BATAM — Bukan sekadar mengejar nilai di ruang kelas. SMKN 7 Batam mulai membangun pola pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja melalui program Uji Unit Kompetensi (UUK) bagi siswa Jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya SMKN 7 Batam melahirkan lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan, etika, disiplin, karakter serta kesiapan menghadapi dunia kerja.
Terbaru, sebanyak 135 siswa kelas XI Manajemen Perkantoran mengikuti UUK selama tiga hari, 28-30 September 2026, di Aula SMKN 7 Batam, Belian, Kecamatan Batam Kota.
Hasilnya membanggakan. Seluruh siswa dinyatakan lulus tanpa remedial.

Pelaksanaan asesmen tersebut terbagi dalam tiga kelompok. Hari pertama diikuti 42 siswa kelas XI MP 1, hari kedua sebanyak 40 siswa XI MP 2, dan hari terakhir 53 siswa XI MP 3.
Tidak hanya dinyatakan lulus, tiga siswa dengan hasil asesmen terbaik juga memperoleh reward. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus pemacu semangat agar seluruh siswa terus belajar, berkompetisi secara sehat dan berusaha menjadi yang terbaik.
Program UUK ini digagas Kepala Program Keahlian MPLB SMKN 7 Batam, Enjang Suhaedin, S.Pd., Gr., M.M.
Enjang mengatakan program tersebut dirancang secara bertahap agar kemampuan siswa dapat diuji dan dikembangkan sejak kelas XI hingga kelas XII.
“Kami ingin siswa secara bertahap dan terencana dapat diuji kemampuannya sampai tingkat akhir. Ketika lulus nanti, mereka tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga memiliki keahlian, kemampuan dan keterampilan yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja,” ujar Enjang.
Yang membuat program ini semakin strategis, SMKN 7 Batam mengembangkan lima kelompok Uji Kompetensi Keahlian (UKK) menjadi 23 Uji Unit Kompetensi yang akan ditempuh siswa secara bertahap.
Penyusunan program mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan, sehingga kompetensi yang diberikan diarahkan agar selaras dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja.
Lima bidang pekerjaan tersebut meliputi:
Administrasi dan Dokumen, terdiri dari empat unit kompetensi dan dilaksanakan September 2026.
Administrasi Eksekutif dan Komunikasi, terdiri dari empat unit kompetensi yang dijadwalkan November 2026.
Pelayanan dan Administrasi Operasional, terdiri dari lima unit kompetensi yang dijadwalkan Maret 2027.
Administrasi Digital, Arsip, K3 dan Keamanan Kerja, terdiri dari delapan unit kompetensi yang dijadwalkan Mei-Juni 2027.
Bahasa Inggris, terdiri dari dua unit kompetensi yang dijadwalkan Januari 2027.
Menurut Enjang, tahapan tersebut dirancang agar siswa memiliki waktu untuk mempelajari, mempraktikkan dan menguasai setiap kompetensi sebelum menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.
“Harapan kami seluruh program ini dapat terlaksana dengan baik. Siswa semakin memahami apa yang telah diajarkan di kelas dan benar-benar mumpuni ketika masuk ke dunia kerja,” katanya.
Untuk memperkuat pelaksanaan UUK, SMKN 7 Batam menggandeng Ikatan Sekretaris Administratif Profesional Indonesia (ISI-AP) DPD Provinsi Kepri.
Kerja sama tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Kepala SMKN 7 Batam Nursya'bani, M.Pd. bersama Ketua Umum DPD ISI-AP Provinsi Kepri Asmaniar Susanti, S.M.

MoU tersebut berlaku selama empat tahun dan saat ini telah memasuki periode kedua SMKN 7 Batam menggunakan asesor dari ISI-AP.
Pada UUK kali ini, proses asesmen dilakukan oleh Asmaniar Susanti, S.M., bersama Ketua DPC ISI-AP Batam Ir. Yuni Denia Wongso.
Asmaniar mengapresiasi keseriusan SMKN 7 Batam dalam mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja.
Ia bahkan mengaku kagum melihat suasana pelaksanaan asesmen yang berlangsung di Aula SMKN 7 Batam.

Ruang ujian yang luas, bersih, rapi dan nyaman, ditambah fasilitas pendukung seperti pendingin ruangan, jam digital, televisi besar dan layar presentasi, membuat suasana asesmen berlangsung kondusif.
Yang tidak kalah menarik, para siswa tampil rapi dengan seragam, name tag, laptop dan perlengkapan kerja layaknya staf administrasi atau sekretaris profesional.
“Suasananya sangat baik. Anak-anak juga tampil rapi seperti seorang staf administrasi atau sekretaris. Mereka membawa laptop, alat tulis dan perlengkapan masing-masing. Ini menciptakan suasana ujian yang tenang dan profesional,” ujar Asmaniar.
Menurutnya, asesmen tidak hanya mengukur kemampuan siswa menyelesaikan tugas.
Sikap duduk, kerapian, kebersihan, kemandirian, kedisiplinan, kecepatan dan ketepatan dalam bekerja juga menjadi bagian penting dalam membentuk seorang tenaga kerja profesional.
Asmaniar menegaskan, dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.
Karena itu, para siswa juga perlu dibekali etika, motivasi, inisiatif, inovasi, loyalitas dan dedikasi.
“Kami sebagai praktisi juga memberikan arahan bagaimana menghadapi dunia kerja nyata. Bekal dari akademisi tentu penting, tetapi pengalaman praktisi juga memberikan gambaran bagaimana kondisi pekerjaan yang sebenarnya,” katanya.
Ia berharap para siswa mampu menjadi generasi muda yang tangguh, tidak mudah menyerah dan terus berusaha meningkatkan kemampuan.
“Visi kami selain sebagai penguji atau asesor juga mengedukasi agar mereka mampu bersaing, menjadi manusia tangguh, penerus bangsa dan kebanggaan Indonesia,” ujar Asmaniar.
Selama tiga hari pelaksanaan UUK, sebanyak 135 siswa mengikuti asesmen.
Hasilnya, seluruh peserta dinyatakan lulus tanpa remedial.
Tiga siswa yang memperoleh hasil asesmen terbaik kemudian diberikan reward.
Penghargaan tersebut diharapkan menjadi motivasi agar siswa lainnya ikut terpacu untuk meningkatkan kemampuan.

“Reward ini menjadi motivasi agar semua berlomba, berpacu, berjuang, belajar dengan tekun dan menjadi yang terbaik,” kata Asmaniar.
Ia menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan penuh Kepala Sekolah, Kepala Program Keahlian MPLB, para guru, wali kelas dan terutama para siswa yang memiliki semangat untuk terus belajar.
“Semua adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Guru mendidik, wali kelas ikut mengawasi, sekolah memberikan dukungan dan anak-anak juga harus memiliki semangat untuk terus belajar, maju, berkembang dan berproses,” tuturnya.
Keberhasilan pelaksanaan UUK tersebut mendorong ISI-AP berharap SMKN 7 Batam dapat menjadi contoh bagi sekolah kejuruan lainnya.
Asmaniar menilai program yang memadukan pembelajaran sekolah, standar kompetensi dan pengalaman praktisi dapat menjadi salah satu model dalam mempersiapkan lulusan SMK agar lebih siap memasuki dunia kerja.
“Semoga SMKN 7 Batam bisa menjadi role model bagi SMK-SMK lain, baik di Batam, Kepri maupun di daerah lainnya,” harap Asmaniar.
Bagi Asmaniar, berada di tengah-tengah siswa sebagai asesor sekaligus memberikan edukasi menjadi pengalaman yang membahagiakan.
Ia pun menyampaikan pesan sederhana namun penuh motivasi kepada para siswa.
“Kalau kita bisa, kamu juga pasti bisa. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Semua perlu perjuangan dan berproses,” ucapnya.
Para asesor ISI-AP sendiri telah terlibat dalam pelaksanaan asesmen di sejumlah SMK di Batam. Selain itu, kegiatan serupa juga dilakukan di SMKN 1 Tanjungpinang, dan ke depan terbuka peluang untuk mendukung SMK di Tanjungbalai Karimun.
Bagi SMKN 7 Batam, Uji Unit Kompetensi bukan sekadar rangkaian ujian.
Program tersebut menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, sekaligus langkah nyata untuk membentuk lulusan yang memiliki keterampilan, karakter dan mental profesional.
Dengan 23 unit kompetensi yang ditempuh secara bertahap hingga kelas XII, siswa diharapkan keluar dari SMKN 7 Batam bukan hanya membawa ijazah, tetapi juga membawa skill, pengalaman dan kepercayaan diri untuk memenangkan persaingan di dunia kerja.
SMKN 7 Batam kini tengah menanam fondasi: mendidik siswa hari ini untuk siap bekerja, berkarya dan menjadi tenaga profesional di masa depan.