
Ahris Sumariyanto melatih atlet woodball Batam
TRANSKEPRI.COM, BATAM - Dari pukulan pertama yang dilakukan sekadar karena ajakan teman kuliah, Ahris Sumariyanto kini menjelma menjadi salah satu nama besar dalam dunia woodball.
Atlet asal Jepara, Jawa Tengah, itu pernah menghabiskan waktu hingga 15 jam sehari untuk berlatih. Kegigihan dan konsistensi tersebut membawanya menembus level dunia dan mengukuhkan namanya sebagai juara dunia woodball.

Kini, pengalaman panjang Ahris dibawa ke Batam.
Bukan sekadar mengajarkan bagaimana memukul bola dan mengarahkan stik. Dalam coaching clinic Woodball Kota Batam, Ahris datang untuk membongkar satu hal yang menurutnya jauh lebih penting: cara berpikir seorang atlet ketika berada di arena pertandingan.
Pesannya tegas.
Jangan takut kepada nama besar. Justru buat mereka takut kepada kita.

Ahris melihat potensi besar dalam diri atlet-atlet woodball Batam. Setelah memberikan materi dan berinteraksi langsung dengan para atlet, ia mengaku melihat perubahan yang cukup signifikan.
"Setelah saya memberikan coaching clinic ini, yang pasti mata mereka berbeda. Respons mereka sangat berbeda, kemauannya sangat berbeda," ujar Ahris.
Bagi Ahris, perubahan tatapan dan kemauan tersebut menjadi tanda bahwa coaching clinic yang diberikan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Ia ingin membangkitkan kemampuan yang selama ini mungkin masih tersembunyi.
"Saya yakin bisa mengubah mereka. Yang pasti peningkatannya jauh lebih besar. Ternyata respons mereka luar biasa. Banyak teman-teman yang memang berbakat, tetapi belum ada yang membangkitkan. Semoga dengan adanya saya bisa membangkitkan atau menumbuhkan kemampuan mereka yang belum keluar," katanya.
Dari Jepara, Menjadi Raja Woodball Dunia
Perjalanan Ahris menuju panggung dunia tidak lahir secara instan.
Pria kelahiran Desa Banyuputih, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, 4 September 1988, itu pertama kali mengenal woodball pada 2008.
Saat itu, Ahris masih menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Semarang (UNNES). Ia awalnya hanya diajak teman kuliah untuk mencoba olahraga tersebut.
Namun, satu pukulan mengubah jalan hidupnya.

Ahris merasa cocok. Ia kemudian bergabung dengan UNNES Woodball Club dan mulai serius menekuni olahraga yang ketika itu belum terlalu populer.
Bakatnya mulai terlihat sejak awal hingga menarik perhatian pelatih.
Dari lapangan latihan kampus, Ahris terus menempa diri. Disiplin, konsistensi dan latihan keras menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Dalam profil yang dimuat Suara Merdeka, Ahris bahkan disebut mampu menjalani latihan hingga 15 jam dalam sehari.
Hasilnya pun berbicara.
Ia kemudian menjadi salah satu atlet woodball terbaik Indonesia dan mengukir berbagai prestasi internasional, termasuk gelar juara dunia.
Kini, pengalaman itulah yang ingin ditularkannya kepada generasi berikutnya.
Bukan Cuma Teknik, Mental yang Dibakar
Menurut Ahris, ada dua pekerjaan rumah utama yang perlu mendapat perhatian Woodball Batam.
Pertama adalah teknik.
Kedua, dan yang tidak kalah penting, adalah cara berpikir ketika pertandingan berlangsung.

"Salah satunya teknik. Yang kedua, cara berpikir pada saat pertandingan. Itu berhubungan dengan psikologi. Ternyata mereka masih salah mengartikan sesuatu dan masih belum tahu mana yang benar," jelasnya.
Ahris menilai kemampuan teknik tanpa mental bertanding yang kuat belum cukup untuk membawa seorang atlet menuju prestasi.
Karena itu, ia mencoba mengubah pola pikir para atlet.
Salah satunya melalui permainan nomor ganda.
Menurut Ahris, dalam pasangan ganda tidak boleh ada anggapan bahwa salah satu atlet lebih hebat dan harus menggendong pasangannya.
"Ketika menjadi sebuah pasangan, tidak ada cerita siapa yang lebih jago. Tidak ada cerita saya yang menggendong kamu," tegasnya.
Atlet yang memiliki kemampuan lebih tinggi, lanjut Ahris, justru harus mampu membuat pasangannya merasa nyaman.
Bukan merasa terbebani.
Bukan pula merasa harus bermain sempurna.
"Yang lebih jago harus membuat pasangannya nyaman, tidak merasa terbebani dan tidak merasa harus sempurna dalam bermain," ujarnya.
AC Mati, Atlet Tetap Bertahan
Ada satu momen sederhana yang justru membuat Ahris terkesan.
Saat coaching clinic berlangsung, pendingin ruangan sempat tidak berfungsi. Kondisi ruangan pun menjadi gerah.
Namun, tidak ada atlet yang sibuk mengeluh.
Bagi Ahris, hal tersebut justru menjadi gambaran kecil tentang mental positif yang ingin ia bangun.
"Saya sangat respect. Tadi sempat AC mati, tidak ada udara, benar-benar gerah. Tidak ada cerita mereka mengeluh," katanya.
Ia melihat para atlet tetap fokus mengikuti materi.
Tidak sibuk memikirkan kondisi yang dianggap mengganggu.
Menurut Ahris, sikap seperti itu merupakan modal penting seorang atlet.
" Mereka tidak peduli dengan hal negatif di sekitar. Mereka sangat positif," ujarnya.
Bagi Ahris, positive thinking bukan sekadar kata-kata motivasi. Pola pikir tersebut harus menjadi kebiasaan ketika seorang atlet menghadapi tekanan pertandingan.
Jangan Peduli Siapa Lawanmu
Menjelang Porprov Kepri VI 2026, Ahris ingin mental atlet Batam benar-benar berubah.
Nama besar lawan, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan seorang atlet kehilangan keberanian sebelum pertandingan dimulai.
Ia meminta atlet Batam fokus pada kemampuan sendiri.

"Jangan pernah peduli dengan orang yang sudah berprestasi lebih dulu. Fokus saja dengan dirimu dan yakin bahwa kalian bisa melawan mereka," tegasnya.
Bagi Ahris, lapangan pertandingan bukan tempat untuk merasa rendah diri.
Justru di sanalah keberanian harus ditunjukkan.
"Untuk Porprov, dengan nama-nama besar, saya mendampingi kalian. Mereka tidak saya dampingi. Buatlah mereka takut dengan kita, bukan kita yang takut dengan mereka," katanya.
Kalimat itu menjadi salah satu pesan paling kuat yang disampaikan Ahris kepada atlet Woodball Batam.
Latihan Bukan Lagi Kewajiban
Ahris juga ingin mengubah cara pandang atlet terhadap latihan.
Menurutnya, atlet berprestasi bukan hanya atlet yang rajin datang berlatih. Lebih dari itu, latihan harus menjadi kebutuhan.
Ketika kesadaran tersebut muncul, seorang atlet tidak lagi berlatih karena diperintah.
Ia berlatih karena memiliki tujuan.
"Kalau sudah sadar, mereka latihan tidak hanya karena latihan. Mereka latihan karena kebutuhan. Mereka latihan karena ingin membanggakan orang di sekitar dan dunia. Kalau sudah sadar, prestasi akan mengikuti," ujarnya.
Pesan itu sejalan dengan perjalanan hidup Ahris sendiri.

Dari seorang mahasiswa yang awalnya hanya mencoba woodball pada 2008, ia kemudian memilih serius, berlatih keras dan terus mengejar prestasi hingga mencapai level dunia.
Pengurus Diminta Tetap Berkorban
Ahris juga memberikan apresiasi kepada pengurus Woodball Batam.
Ia melihat ada semangat dan pengorbanan untuk membangun cabang olahraga yang belum sepopuler sepak bola, bulu tangkis maupun olahraga lainnya.
Namun, menurutnya, perjuangan tersebut membutuhkan konsistensi.
"Kesan saya, pengurus ini luar biasa. Semoga bertahan dengan segala gejolak yang pasti. Kita tahu woodball bukan olahraga terkenal. Rugi pasti, untung belum tentu. Jadi saya minta pengurus berkorban dulu," katanya.
Ia menilai pengorbanan pengurus, pelatih dan atlet merupakan bagian dari proses panjang untuk membangun ekosistem olahraga.
Prestasi tidak selalu lahir dalam waktu singkat.
Kadang, ia dimulai dari lapangan sederhana, latihan panjang, keringat, kegagalan, hingga keberanian untuk terus mencoba.
Ahris Datang Membawa Keyakinan
Pada akhirnya, kehadiran Ahris di Batam bukan hanya tentang teknik memukul bola.
Ia datang membawa pengalaman, mental juara dan keyakinan bahwa atlet Batam memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh.
Ia ingin para atlet percaya bahwa nama besar lawan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Sebaliknya, Batam harus datang ke arena pertandingan dengan keyakinan bahwa mereka juga mampu menjadi ancaman.
"Buatlah mereka takut dengan kita, bukan kita yang takut dengan mereka."
Pesan Ahris itu kini menjadi tantangan bagi atlet Woodball Batam.
Sebab, sebelum mengejar medali emas, seorang juara harus terlebih dahulu memenangkan pertarungan di dalam pikirannya sendiri.