
Mendagri Muhammad Tito Karnavian menekan sirine pada peletakan batu pertama Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kamis (24/9) keproprov.go.id
TRANSKEPRI.COM.TANJUNGPINANG- Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tito Karnavian didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura meresmikan dimulainya pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kamis (24/9/2026) sore. Peresmian ditandai dengan penekanan sirene oleh Mendagri Tito Karnavian.
Membersamai Mendagri menekan sirine di antaranya Gubernur Kepri nyasar Ahmad, Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura, serta sejumlah unsur Forkominda.
Dalam sambutannya, Tito mengatakan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa memiliki arti penting untuk mengenalkan kepada generasi muda sejarah dan asal-usul bahasa Indonesia yang digunakan sebagai bahasa persatuan bangsa.
Menurutnya, secara historis bahasa Melayu telah lama digunakan sebagai bahasa pengantar dalam perdagangan di kawasan Nusantara. Selain itu, bahasa Melayu relatif mudah dipelajari sehingga penggunaannya semakin luas.
“Karena mudah dipelajari dan sudah banyak digunakan, kemudian disepakati dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 sebagai bahasa Indonesia,” kata Tito.
Ia mengingatkan, keputusan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Saat Sumpah Pemuda diikrarkan, Indonesia bahkan belum menjadi negara yang merdeka.
“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal waktu itu Indonesia belum merdeka,” ujarnya.
Dari momentum tersebut, Tito kemudian mengajak masyarakat melihat lebih jauh mengenai asal-usul bahasa Melayu yang menjadi akar dari bahasa Indonesia.
Menurutnya, terdapat berbagai teori mengenai asal-usul bahasa Melayu. Namun, Pulau Penyengat memiliki jejak sejarah yang kuat melalui sosok Raja Ali Haji dan karya-karyanya.
“Pertanyaan kritisnya, dari mana bahasa Melayu itu berasal? Jejaknya banyak dan teorinya juga banyak. Tetapi yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” tutur Tito.
Atas dasar itu, Tito mengapresiasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau atas pembangunan Monumen dan Museum Tugu Bahasa di Pulau Penyengat.
Ia menilai keberadaan monumen dan museum tersebut nantinya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.(*)