
Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra, Kadispora Batam Zulkarnain, Wakil Ketua Umum KONI Batam Rinaldi Samjaya saat bersama Ketua PELTI Batam Toto Sumito dan para atlet, pelatih serta official cabor Tenis Batam. (ist)
BATAM- Tepuk tangan bergemuruh memenuhi Aula Engku Hamidah, lantai 4 Kantor Wali Kota Batam, Selasa (30/6/2026) siang. Ratusan pasang mata tertuju ke arah panggung ketika satu per satu atlet pelajar Kota Batam duduk rapi dengan seragam kontingen yang akan mereka kenakan dalam perjuangan di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) X Provinsi Kepri 2026 di Kabupaten Karimun 02-08 Juli mendatang.

WAKIL Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra. (ist)
Di ruangan itu, semangat dan optimisme begitu terasa. Kota Batam kembali membidik prestasi tertinggi: mempertahankan gelar juara umum untuk kesembilan kalinya secara berturut-turut.
Namun, siang itu, ada sesuatu yang lebih membekas daripada target medali emas dan ambisi mempertahankan supremasi olahraga pelajar di Kepulauan Riau.
Sesuatu itu lahir dari kalimat-kalimat sederhana yang disampaikan Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra.
Di hadapan 171 atlet, puluhan pelatih, manajer, ofisial, Forkopimpda dan tamu undangan yang hadir, saat melepas kontingen Batam ke ajang POPDA X Kepri, Li Claudia tidak memulai pidatonya dengan berbicara soal strategi, statistik kemenangan, atau tekanan untuk menjadi juara. Sebaliknya, ia berbicara tentang perjuangan.

KADISPORA Batam, Zulkarnain. (ist)
Ia terlihat memahami, di balik seragam yang dikenakan para atlet muda itu, ada ribuan jam latihan, ada orang tua yang mengantar sejak dini hari, ada pelatih yang mendampingi tanpa mengenal waktu, serta ada mimpi-mimpi besar yang sedang diperjuangkan.
Karena itu, ketika memberikan motivasi kepada para atlet, Li Claudia menyampaikan sebuah janji dan apresiasi yang langsung disambut sorak dan tepuk tangan.
“Bagi yang juara, saya akan menambah bonusnya,” katanya.
Kalimat itu mungkin singkat. Namun, bagi para atlet pelajar yang selama ini berlatih dalam sunyi dan jauh dari sorotan, ucapan tersebut terasa sebagai bentuk penghargaan bahwa perjuangan mereka dilihat, dihargai, dan diapresiasi.
Suasana haru kembali terasa ketika Li Claudia menyinggung sosok Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Batam, Zulkarnain.

Mulai 1 Juli 2026, Zulkarnain resmi memasuki masa purna bakti. Sebuah akhir perjalanan panjang pengabdian sebagai aparatur sipil negara yang selama bertahun-tahun ikut membina dan mendampingi olahraga Kota Batam.
Namun, di mata Li Claudia, pengabdian tidak serta-merta berhenti karena berakhirnya masa jabatan.
Dengan penuh penghormatan, ia meminta agar Zulkarnain tetap mendampingi Kontingen Kota Batam hingga seluruh rangkaian POPDA X Kepri selesai dilaksanakan.
Permintaan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam: penghargaan terhadap dedikasi dan pengabdian seseorang yang turut berkontribusi membangun prestasi olahraga daerah. Pernyataan yang tahu bagaimana menghargai sebuah pengabdian yang jarang dimiliki banyak pemimpin.
Lalu, tibalah pada kalimat yang membuat suasana ruangan seketika berubah menjadi lebih hangat.
Li Claudia memandang para pengurus cabang olahraga, pelatih, dan ofisial yang akan mendampingi kontingen selama berada di Kabupaten Karimun.
Dengan nada yang lembut namun tegas, ia berpesan:
“Jaga anak-anak saya.”
Ruangan mendadak terasa hening.
Tidak ada kata “atlet”, tidak ada kata “kontingen”, tidak pula istilah formal lainnya. Yang keluar dari mulut seorang pemimpin daerah itu adalah sebuah ungkapan yang begitu personal: anak-anak saya.
Dalam satu kalimat sederhana itu, tersimpan rasa tanggung jawab, kepedulian, sekaligus kasih sayang dan empati seorang ibu kepada anak-anak yang akan pergi berjuang jauh dari rumah.
Bagi mereka yang hadir, kalimat itu bukan sekadar pesan seremonial. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa para atlet yang akan bertanding bukan hanya pemburu medali, melainkan anak-anak yang sedang membawa harapan untuk keluarga dan daerahnya. (*)