
Media Siber Tak Bisa Lagi Menunggu Pembaca, Zabur Paparkan Strategi Bertahan di Era Medsos
TRANSKEPRI.COM, BATAM – Lanskap industri media digital terus berubah seiring semakin dominannya media sosial sebagai sumber informasi masyarakat. Perubahan ini memaksa media siber untuk beradaptasi agar tidak kehilangan audiens dan tetap mampu menjalankan fungsi jurnalistiknya secara profesional.
Fenomena tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) Jurnalisme di Era AI bertema “Transformasi Media Siber Menuju Bisnis Berkelanjutan dan Beretika” yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Riau di Hotel Serra, Batam, Rabu (17/6/2026).
Pada kesempatan itu, Sekretaris SMSI Kepulauan Riau, Zabur Anjasfianto, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Media Siber di Era Media Sosial”. Dalam pemaparannya, ia mengulas perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang kini lebih banyak mengandalkan platform media sosial dibanding mengakses langsung situs berita.
Menurut Zabur, era digital telah mengubah cara media menjangkau publik. Jika sebelumnya media cukup memproduksi berita dan menunggu pembaca datang, kini distribusi informasi sangat bergantung pada algoritma platform digital.
"Kebiasaan masyarakat telah berubah. Informasi kini lebih banyak ditemukan melalui media sosial. Karena itu media harus hadir di ruang-ruang digital tempat audiens berada," ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan media saat ini tidak hanya datang dari sesama perusahaan pers, tetapi juga dari influencer, kreator konten, kanal komunitas, hingga perusahaan teknologi global yang memiliki kekuatan distribusi sangat besar.
Meski demikian, Zabur menilai kondisi tersebut bukan ancaman yang harus ditakuti. Sebaliknya, media sosial harus dilihat sebagai peluang untuk memperluas jangkauan dan memperkuat hubungan dengan audiens.
"Media sosial merupakan kanal distribusi terbesar yang pernah dimiliki industri pers. Yang dibutuhkan adalah kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan perubahan untuk memperkuat posisi media di tengah masyarakat," katanya.
Dalam forum tersebut, Zabur memaparkan empat langkah penting yang perlu dilakukan media siber agar tetap bertahan dan berkembang. Pertama, menjaga kualitas serta kredibilitas konten. Kedua, memperkuat distribusi berita melalui berbagai platform digital. Ketiga, membangun komunitas pembaca yang loyal. Dan keempat, mengembangkan sumber pendapatan baru melalui berbagai inovasi bisnis media.
Selain membahas strategi bisnis dan distribusi, ia juga menyoroti pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik. Menurutnya, AI dapat membantu mempercepat berbagai proses kerja, mulai dari riset, transkripsi wawancara, hingga analisis data audiens.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan nilai dasar jurnalistik.
"Keakuratan informasi, verifikasi fakta, independensi, dan kepekaan terhadap persoalan publik tetap menjadi kekuatan utama yang dimiliki jurnalis," tegasnya.
Ketua SMSI Provinsi Riau, Luna Agustin, mengatakan transformasi digital harus disikapi secara positif oleh perusahaan pers. Menurutnya, perkembangan teknologi merupakan peluang untuk meningkatkan kualitas sekaligus memperkuat keberlanjutan bisnis media.
"Kami ingin media siber mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa meninggalkan etika jurnalistik. Profesionalisme dan kepentingan publik harus tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Workshop dan FGD Jurnalisme di Era AI, Dara Fitria, berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya wawasan insan pers mengenai tantangan dan peluang industri media digital di masa depan.
Melalui kegiatan ini, SMSI Provinsi Riau berupaya mendorong lahirnya media-media siber yang lebih adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan era media sosial serta kecerdasan buatan, tanpa kehilangan identitasnya sebagai penyampai informasi yang akurat, berimbang, dan terpercaya.