Pertumbuhan Ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2026 Kalahkan AS, China, Singapore dan Korsel

Rabu, 06 Mei 2026

Ilustrasi: Grafik pertumbuhan ekonomi. (net)

TRANSKEPRI.COM.JAKARTA- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tumbuh di atas beberapa negara G20.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 bila dibandingkan kuartal I 2025 atau secara tahunan (year-on-year/yoy) tumbuh 5,61 persen.

Pertumbuhan itu lebih tinggi jika dibandingkan kuartal I 2025 yang tumbuh sebesar 4,87 persen.

"Pertumbuhan kita yang 5,61 persen ini tumbuh di atas beberapa negara G20," ujar Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).

Di antara negara-negara G20, India memang belum mengeluarkan angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Namun, kata Airlangga, pertumbuhan Indonesia masih lebih tinggi dibanding China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 5 persen secara tahunan, Singapura 4,6 persen, Arab Saudi 2,8 persen, dan Amerika Serikat 2,7 persen.

"Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan yang memang pemerintah siapkan dengan berbagai kebijakan, terutama dalam rangka kemarin hari raya Lebaran," ujar Airlangga.

Ia mengatakan pertumbuhan pada kuartal I 2026 berhasil melebihi ekspektasi berbagai lembaga di luar sana. Airlangga memandang ini sebagai hal yang positif.

"Kuartal pertama dulu saja yang Indonesia berhasil katakanlah meng-outbeat ekspektasi dari berbagai lembaga. Jadi ini satu hal yang positif," ucap Airlangga.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan capaian laju ekonomi Januari-Maret 2026 merupakan yang tertinggi untuk periode kuartal I dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menjelaskan jika dibandingkan secara historis, angka tersebut melampaui capaian kuartal I sejak 2021. Meski sempat ada pertumbuhan lebih tinggi pada kuartal lain seperti kuartal II 2021 sebesar 7,08 persen dan kuartal III 2022 sebesar 5,73 persen, tetapi bukan terjadi di kuartal I.

"Kalau kita lihat kuartal I dari 2021 sampai 2026, belum pernah yang melebihi 5,61 persen," ujar Amalia dalam konferensi pers di kantor BPS

Merujuk data BPS, dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi didorong sejumlah sektor utama seperti industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Kelima sektor ini berkontribusi sekitar 63,52 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Sementara sektor dengan pertumbuhan tinggi antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen, jasa lainnya 9,91 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen.

Pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum didorong peningkatan aktivitas selama libur nasional serta program makan bergizi gratis.

Transportasi dan pergudangan tumbuh ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi.

"Transportasi dan pergudangan tumbuh ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi," ujar Amalia.

Dari sisi sumber pertumbuhan, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,03 persen, diikuti perdagangan 0,82 persen, pertanian 0,55 persen, serta konstruksi 0,53 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB dan tumbuh 5,52 persen. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 28,29 persen dengan pertumbuhan 5,96 persen.

Kedua komponen tersebut menyumbang sekitar 82,65 persen terhadap total PDB.

Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh tinggi hingga 21,81 persen, didorong peningkatan realisasi belanja, termasuk pembayaran gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa. Namun, porsinya hanya 6,72 persen terhadap ekonomi. (*)