Kisah Pilu Anak NTT Menggema di Ruang Kelas SMPN 17 Batam

Kamis, 05 Februari 2026

Rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam, “Literasi Digital Bikin Pelajar Lebih Cerdas Bermedia Sosial”(pwi batam)

 

 

TRANSKEPRI.COM.BATAM - Pagi itu, langkah-langkah kecil bergegas menaiki tangga menuju lantai dua SMP Negeri 17 Batam. Di ruang pertemuan yang biasanya sunyi, ratusan pasang mata kini berbinar penuh rasa ingin tahu. Sebanyak 239 siswa kelas VII, VIII, dan IX berkumpul bukan untuk ulangan atau upacara, melainkan untuk sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari: bagaimana menjadi cerdas di dunia digital.

Di hadapan mereka, spanduk bertema “Literasi Digital Bikin Pelajar Lebih Cerdas Bermedia Sosial” terbentang. Tema yang sederhana, tapi menyimpan pesan besar: jempol yang menari di layar ponsel harus diiringi pikiran yang jernih dan hati yang bijak.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Batam. Sekolah ini menjadi satu dari 13 sekolah yang telah disambangi tim pendidikan PWI Batam dalam misi menumbuhkan budaya literasi sejak dini.

Suasana ruangan terasa hangat ketika Kabid Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kota Batam, Mansur, membuka kegiatan. Ia tidak hanya memberi sambutan formal, tetapi juga menyampaikan kegelisahan yang membuat ruangan sejenak hening.

Ia menyinggung kisah pilu seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidup karena tak mampu membeli perlengkapan belajar. Kisah itu menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar soal nilai, tetapi juga tentang perhatian, empati, dan dukungan bersama.
“Peristiwa seperti itu jangan sampai terulang. Kita semua punya tanggung jawab,” pesannya lembut namun tegas, seraya mengajak siswa mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh agar ilmu yang didapat benar-benar bermakna.

Kepala SMPN 17 Batam, Syofia Asnita, menyambut kegiatan ini sebagai bagian dari upaya sekolah memperkuat mutu pendidikan. Baginya, literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami, mengolah, lalu menyampaikan gagasan dengan baik.

Di sekolahnya, program literasi dan numerasi terus digalakkan. Namun kehadiran PWI Batam memberi warna berbeda.

“Anak-anak belajar langsung dari praktisi yang memang setiap hari bergelut dengan dunia tulis-menulis dan informasi,” ujarnya. Ia berharap kerja sama ini tak berhenti pada satu pertemuan, melainkan berlanjut menjadi gerakan bersama.

Dari pihak PWI Batam, materi disampaikan oleh Arment Aditya bersama tim pendidikan: Kamal Asni, Muhammad Kamil, dan Dedi Sulaiman. Mereka tidak hanya berbicara tentang berita dan tulisan, tetapi juga tentang tanggung jawab di balik setiap unggahan.

Para siswa diajak memahami bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi foto atau mengikuti tren, melainkan ruang publik tempat kata-kata bisa membawa dampak besar — membangun atau justru melukai.
Di sela materi, sesekali terdengar tawa ketika contoh-contoh unggahan viral dibedah bersama. Namun di balik tawa itu, terselip kesadaran baru: bahwa menjadi generasi digital berarti juga menjadi generasi yang berpikir sebelum membagikan sesuatu.

Bagi PWI Batam, pelatihan ini bukan sekadar program seremonial. Ini adalah investasi jangka panjang.

“Kami berharap dari ruang-ruang kelas seperti ini lahir generasi literat yang kelak bisa menjadi jurnalis, penulis, atau setidaknya warga digital yang cerdas,” ungkap Arment.

Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan foto bersama. Namun yang lebih penting dari itu, hari itu para siswa pulang membawa sesuatu yang tak terlihat: kesadaran bahwa kata-kata punya kekuatan, dan mereka kini belajar menggunakannya dengan lebih bertanggung jawab.

Di lantai dua SMPN 17 Batam, bukan hanya pelatihan yang berlangsung. Di sana, nalar sedang dinyalakan.  Pelan tapi pasti.(*)