HPN 2026, PWI Batam Dorong Budaya Literasi dan Jurnalisme di SMPN 60 Batam

Ahad, 11 Januari 2026

HPN 2026, PWI Batam Dorong Budaya Literasi dan Jurnalisme di SMPN 60 Batam

TRANSKEPRI.COM, BATAM – Aula SMP Negeri 60 Batam menjadi saksi tumbuhnya semangat literasi di kalangan pelajar. Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Batam menggelar Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan pelatihan jurnalistik bagi siswa, Sabtu (10/1/2026).

Sebanyak 200 siswa kelas VII dan VIII bersama para guru mengikuti kegiatan tersebut dengan penuh antusias. Sejak pagi, aula sekolah dipenuhi semangat belajar, diskusi, dan keingintahuan pelajar yang ingin mengenal lebih dekat dunia membaca dan menulis, khususnya jurnalistik.

Kepala SMPN 60 Batam, Gusfawati, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi atas kehadiran PWI Batam di lingkungan sekolahnya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi penguat bagi program literasi yang selama ini telah dijalankan.

“Sekolah kami sudah memiliki ekstrakurikuler jurnalistik selama dua tahun. Kehadiran langsung insan pers tentu memberi warna dan wawasan baru bagi siswa maupun guru,” ujarnya.

Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik, sehingga siswa mampu menghasilkan karya tulis dan berita yang baik serta sesuai kaidah jurnalistik.

Kegiatan literasi dan pelatihan jurnalistik ini juga sejalan dengan semangat HPN 2026 yang akan dipusatkan di Serang, Banten, pada 9 Februari mendatang. Dukungan terhadap program ini turut datang dari Dinas Pendidikan Kota Batam yang mendorong PWI Batam untuk aktif menyasar sekolah-sekolah dalam upaya meningkatkan budaya literasi.

Ketua PWI Kota Batam, M. A. Khafi Anshary, dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk insan pers.

“PWI hadir untuk menumbuhkan kembali minat baca dan kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar. Di era digital saat ini, literasi menjadi kunci agar tidak mudah terjebak informasi keliru dan hoaks,” tegasnya.

Materi pertama disampaikan oleh pemateri Arment Aditya yang mengulas Gerakan Literasi Sekolah secara komprehensif. Ia memaparkan data kondisi literasi Indonesia berdasarkan berbagai riset, yang menunjukkan masih rendahnya minat baca masyarakat, khususnya pelajar.

Berdasarkan studi Most Littered Nation in the World 2022, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Sementara data Perpustakaan Nasional 2022 mencatat pelajar Indonesia rata-rata membaca 5–9 buku per tahun, dengan frekuensi membaca 3–4 kali per minggu.

“Kondisi ini berdampak pada kemampuan berpikir kritis pelajar. Karena itu, literasi harus dibiasakan sejak dini dan dilakukan secara konsisten,” jelas Arment.

Ia juga membagikan strategi penguatan literasi di sekolah, mulai dari pembiasaan membaca, penyediaan sudut baca, mading aktif, pohon literasi, hingga penerbitan majalah sekolah.

Pada sesi berikutnya, peserta diperkenalkan pada dasar-dasar jurnalistik sekolah, meliputi pengenalan profesi jurnalis, teknik penulisan berita, wawancara, hingga praktik menulis sederhana. Diskusi interaktif pun berlangsung, menandai tingginya minat siswa terhadap dunia jurnalistik.

Meski pelatihan berlangsung singkat, diharapkan kegiatan ini mampu menjadi pemantik lahirnya generasi pelajar yang gemar membaca, kritis dalam berpikir, dan berani menulis.

Di aula SMPN 60 Batam hari itu, literasi bukan sekadar agenda. Ia menjadi langkah awal menyiapkan pelajar untuk menulis masa depan mereka sendiri melalui kata dan pengetahuan.